Harga Minyak Menguat, Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan
Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan hari Jumat setelah muncul laporan serangan baru terhadap sejumlah kapal tanker di kawasan Timur Tengah. Meningkatnya insiden keamanan maritim tersebut memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global, khususnya distribusi minyak melalui Selat Hormuz. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 0,54% menjadi US$91,63 per barel pada sesi awal perdagangan Eropa.
Penguatan ini melanjutkan pemulihan harga setelah sebelumnya mengalami tekanan tajam. Pada perdagangan hari Kamis (5/11), minyak WTI menguat sekitar 2,7%. Kenaikan tersebut terjadi setelah harga acuan minyak dunia anjlok lebih dari 8% pada hari Rabu (4/11), menyentuh level penutupan terendah sejak 31 Agustus 2026. Meskipun mengalami pemulihan, harga WTI diperkirakan melemah sekitar 12% sepanjang pekan ini.
Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah sedikitnya lima kapal dilaporkan mengalami insiden sejak hari Minggu (1/11), berdasarkan laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Situasi keamanan di Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena jalur tersebut merupakan salah satu rute terpenting bagi distribusi energi dunia. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menyatakan bahwa dua kapal tanker minyak dan sebuah kapal tunda mengalami kebakaran setelah mencoba melintasi jalur yang tidak diizinkan. Arab Saudi turut mengeluarkan peringatan mengenai potensi bahaya di sekitar Yanbu, salah satu pusat ekspor minyaknya di Laut Merah, di tengah berlanjutnya serangan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Dari sisi geopolitik, hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat yang membuat Partai Demokrat menguasai kedua kamar Kongres awalnya memunculkan harapan bahwa tekanan politik dapat mempercepat upaya mengakhiri konflik antara AS, Israel, dan Iran. Namun, hasil pemilu tersebut belum menjamin tercapainya kesepakatan diplomatik dalam waktu dekat. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dilaporkan melakukan komunikasi melalui telepon dengan mitranya dari Arab Saudi dan Qatar untuk membahas perkembangan diplomasi dan stabilitas kawasan. Hal ini menunjukkan bahwa jalur komunikasi diplomatik masih terbuka meskipun situasi keamanan belum sepenuhnya kondusif.
Selain Timur Tengah, risiko gangguan pasokan minyak juga muncul dari konflik Rusia-Ukraina. Ukraina kembali melancarkan serangan terhadap fasilitas kilang minyak Rusia, termasuk Kilang Ryazan yang merupakan salah satu fasilitas pengolahan minyak terbesar di negara tersebut. Analisis rekaman video Reuters mengindikasikan bahwa fasilitas itu menjadi sasaran serangan drone pada malam hari. Secara keseluruhan, harga minyak dunia masih menghadapi tarik-menarik antara kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik geopolitik dan prospek permintaan global. Selama ketegangan di Timur Tengah serta gangguan distribusi energi belum mereda, volatilitas harga WTI diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek.
sumber : investing
