USD Tertekan Pascapemilu, Pasar Menanti Data NFP AS

Dolar Amerika Serikat (USD) masih menunjukkan kecenderungan bearish setelah melanjutkan pelemahan tajam yang dipicu oleh hasil pemilu paruh waktu AS pada hari Rabu (4/11). Tekanan terhadap Greenback berlanjut hingga Kamis di tengah meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar dalam merespons perkembangan politik dan ekonomi. Kini, perhatian investor tertuju pada rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) bulan Oktober yang berpotensi menjadi katalis utama pergerakan pasar valuta asing.

Indeks Dolar AS (DXY) bergerak fluktuatif dengan menguji area 101,70, seiring penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS di berbagai tenor. Selain NFP, data Tingkat Pengangguran dan Indeks Sentimen Konsumen awal University of Michigan (U-Mich) juga menjadi perhatian. Hasil ketiga indikator tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Sementara itu, EURUSD sempat menghadapi resistensi kuat di sekitar 1,1200 sebelum mengalami pemulihan terbatas dan ditutup dengan kenaikan tipis. Pelaku pasar juga menantikan data Produksi Industri Jerman dan Harga Produsen Uni Eropa.

Di pasar mata uang Inggris dan Jepang, GBPUSD bergerak naik turun di sekitar 1,3470 setelah mengalami kesulitan mempertahankan momentum penguatan dalam beberapa hari terakhir. Pergerakan Poundsterling selanjutnya akan dipengaruhi oleh sejumlah indikator domestik, termasuk Indeks Harga Rumah Lloyds dan Suku Bunga Hipotek BBA. Sementara itu, USDJPY melanjutkan koreksi setelah melemah pada perdagangan sebelumnya dan sempat menyentuh area 157,80. Dari Jepang, perhatian pasar tertuju pada data Pendapatan Tunai Rata-Rata serta laporan mingguan Investasi Obligasi Luar Negeri yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi dan arus modal.

Sementara itu, AUDUSD mengalami tekanan cukup besar hingga mencapai level terendah dalam tiga minggu di sekitar 0,6940. Pelemahan ini dipicu oleh sejumlah komentar pejabat Reserve Bank of Australia (RBA) yang kurang memberikan dukungan terhadap mata uang Australia, ditambah meningkatnya kehati-hatian di pasar global. Di pasar komoditas, harga minyak mentah WTI sempat turun ke sekitar US$86 per barel sebelum mengalami pemulihan signifikan dan kembali menembus US$90 per barel. Ketidakpastian hubungan antara Amerika Serikat, Iran, dan situasi di Selat Hormuz masih menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan harga minyak dunia.

Berbeda dengan dolar AS, harga emas justru melanjutkan penguatan dengan berhasil menembus level US$4.100 per troy ounce. Kenaikan ini didukung oleh pelemahan USD, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta respons investor terhadap hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat. Secara keseluruhan, pasar keuangan global masih berada dalam kondisi yang dinamis dengan perhatian utama tertuju pada rilis data NFP dan Sentimen Konsumen AS. Hasil data yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi meningkatkan tekanan terhadap USD sekaligus memberikan peluang penguatan bagi emas, sedangkan data yang lebih kuat dapat memicu perubahan ekspektasi pasar dan meningkatkan volatilitas pada berbagai instrumen keuangan.


sumber : fxstreet