Minyak Dunia Anjlok, Harapan Damai AS-Iran Tekan Harga

Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan hari Senin, seiring meningkatnya optimisme terhadap upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Harapan tercapainya kesepakatan damai tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global dalam waktu dekat. Pada Perdagangan awal sesi Eropa, Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 2,16% ke level US$100,67 per barel. Penurunan ini terjadi setelah harga minyak mencatatkan penguatan signifikan dalam beberapa hari sebelumnya, meskipun secara keseluruhan Harga minyak mentah masih membukukan kenaikan hampir 15% sepanjang Oktober 2026.

Tekanan terhadap harga minyak juga dipengaruhi oleh meredanya eskalasi konflik selama akhir pekan serta berlanjutnya negosiasi diplomatik yang mendorong sebagian investor melakukan aksi ambil untung atau profit taking. Berdasarkan laporan Axios, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui percakapan telepon pada hari Sabtu (31/10) bahwa dirinya lebih memilih memberikan waktu tambahan bagi jalur diplomasi sebelum memutuskan untuk kembali melanjutkan operasi militer. Sikap tersebut dilaporkan menimbulkan kekhawatiran bagi Netanyahu, yang menginginkan serangan militer Amerika Serikat kembali dilakukan tidak lama setelah pemilihan paruh waktu. Meskipun peluang negosiasi memberikan sentimen positif bagi pasar, hasil pemilihan tersebut tetap menjadi faktor risiko penting karena Trump sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan tindakan militer apabila perundingan tidak membuahkan hasil.

Analis ING menilai bahwa arah harga minyak selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan situasi setelah pemilihan paruh waktu Amerika Serikat. Apabila pemilihan berlangsung tanpa adanya serangan militer maupun kesepakatan damai, perhatian pasar akan tertuju pada apakah premi risiko geopolitik yang selama ini menopang harga minyak akan tetap bertahan atau mulai berkurang secara bertahap. Di sisi lain, pejabat Iran dan Qatar dilaporkan telah menggelar pembicaraan selama tiga hari berturut-turut untuk mencari jalan keluar dari konflik. Teheran menyatakan masih membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi, meskipun tetap mempersiapkan langkah pertahanan untuk menghadapi kemungkinan serangan lanjutan. Qatar juga berupaya menjadi mediator dalam pembahasan proposal pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang memiliki peran penting dalam distribusi minyak dunia.

Selat Hormuz masih menjadi salah satu titik perhatian utama pelaku pasar energi global. Serangan terhadap kapal tanker serta pembatasan ekspor minyak Iran telah meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi pelayaran, sehingga memperbesar risiko gangguan distribusi energi internasional. Analis ING juga mengingatkan bahwa sejumlah perkembangan penting dalam konflik ini sebelumnya terjadi selama akhir pekan. Oleh karena itu, pasar diperkirakan masih akan mencermati situasi dengan penuh kewaspadaan hingga akhir pekan mendatang, terutama untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya perkembangan geopolitik yang tidak terduga. Setiap peningkatan ketegangan berpotensi menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap pasokan minyak dan mendorong kenaikan harga dalam waktu singkat.

Sementara itu, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bersama negara-negara mitranya yang tergabung dalam OPEC+ sepakat mempertahankan target produksi minyak untuk Desember 2026 tanpa perubahan. Keputusan tersebut mencerminkan sikap hati-hati kelompok produsen utama dunia di tengah ketidakpastian geopolitik dan gangguan ekspor yang masih berlangsung. Penyesuaian kebijakan produksi lebih lanjut diperkirakan belum menjadi prioritas hingga tahun depan. Ke depan, pergerakan harga minyak dunia akan sangat ditentukan oleh keberhasilan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, perkembangan keamanan di Selat Hormuz, serta kebijakan produksi OPEC+. Apabila diplomasi berhasil menghasilkan kesepakatan dan distribusi minyak kembali normal, tekanan penurunan harga berpotensi berlanjut. Sebaliknya, kegagalan perundingan yang diikuti eskalasi militer dapat kembali memicu lonjakan harga minyak akibat meningkatnya premi risiko geopolitik.


sumber : investing