BOJ Pertahankan Suku Bunga 1,25%, Sinyal Kenaikan Suku Bunga Desember Menguat
Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada level 1,25% dalam pertemuan kebijakan moneter hari Jumat, sesuai dengan ekspektasi pasar. Keputusan tersebut disetujui oleh delapan dari sembilan anggota dewan kebijakan, sementara satu anggota, Takata Hajime, menyatakan ketidaksetujuan dan mengusulkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Meskipun mempertahankan suku bunga, BoJ memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter masih berpotensi diperketat apabila pertumbuhan ekonomi dan inflasi terus menunjukkan perkembangan yang sesuai dengan proyeksi. Bank sentral Jepang juga menyatakan bahwa inflasi konsumen yang mendasarinya telah mencapai tingkat yang secara umum konsisten dengan target stabilitas harga sebesar 2% dan diperkirakan akan bertahan di sekitar level tersebut.
Pernyataan BoJ tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena mengindikasikan bahwa perjuangan Jepang dalam mengatasi tekanan deflasi selama beberapa dekade mulai memasuki fase baru. Analis Capital Economics menilai bahwa pencapaian target inflasi tersebut membuka ruang bagi bank sentral untuk melanjutkan kenaikan suku bunga. Mereka memperkirakan kenaikan suku bunga berikutnya dapat terjadi pada Desember 2026, dengan suku bunga berpotensi mencapai 2% pada pertengahan 2027. Namun, BoJ sedikit menyesuaikan proyeksi inflasi inti untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2027 menjadi kisaran 2,4%–2,5%, dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 2,3%–2,6%. Bank sentral juga memperingatkan adanya risiko kenaikan ekspektasi inflasi jangka menengah hingga panjang akibat meningkatnya harga energi, permintaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), serta pelemahan nilai tukar yen.
Selain memberikan sinyal mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga, BoJ juga mengumumkan perubahan penting dalam kebijakan pengelolaan asetnya. Bank sentral berencana meningkatkan laju penjualan kepemilikan reksa dana yang diperdagangkan di bursa atau Exchange-Traded Funds (ETF), yang sebelumnya dikumpulkan sebagai bagian dari program stimulus moneter. Mulai Januari 2027, BoJ akan menetapkan target penjualan ETF tahunan sekitar 860 miliar yen atau setara US$5,47 miliar, meningkat cukup signifikan dibandingkan target sebelumnya sebesar 330 miliar yen. Langkah tersebut mencerminkan proses normalisasi kebijakan moneter Jepang setelah bertahun-tahun menerapkan kebijakan suku bunga sangat rendah dan stimulus berskala besar. Pengurangan kepemilikan ETF juga menjadi bagian dari upaya bank sentral untuk mengurangi dukungan moneter secara bertahap di tengah tekanan inflasi yang semakin persisten.
Dari sisi ekonomi domestik, BoJ masih menunjukkan optimisme terhadap prospek pertumbuhan Jepang meskipun memperkirakan ekspansi ekonomi berlangsung dengan kecepatan yang lebih moderat. Bank sentral sedikit menaikkan proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun fiskal berjalan menjadi kisaran 0,7%–0,8%, dari perkiraan sebelumnya sebesar 0,6%–0,7%. Namun, data inflasi Tokyo untuk Oktober yang dirilis beberapa jam sebelum keputusan BoJ menunjukkan bahwa tekanan harga masih berada jauh di atas target inflasi 2%. Kondisi ini memperkuat alasan bagi bank sentral untuk tetap waspada terhadap risiko inflasi dan mempertimbangkan pengetatan kebijakan lebih lanjut. Sementara itu, respons pasar terhadap keputusan tersebut terlihat pada penguatan yen Jepang, dengan pasangan USDJPY turun sekitar 0,2%. Di pasar saham, indeks Nikkei 225 justru memperdalam pelemahannya hingga 2,3%, terutama akibat tekanan jual yang berkelanjutan pada saham-saham teknologi.
Secara keseluruhan, keputusan BoJ mempertahankan suku bunga tidak serta-merta menghilangkan peluang pengetatan kebijakan moneter dalam beberapa bulan mendatang. Pernyataan mengenai pencapaian target inflasi, potensi kenaikan suku bunga pada Desember, serta peningkatan penjualan ETF menunjukkan bahwa Jepang sedang melanjutkan proses normalisasi kebijakan moneternya. Bagi pasar valuta asing, perkembangan ini berpotensi memberikan dukungan terhadap yen Jepang, terutama apabila ekspektasi kenaikan suku bunga semakin menguat dan perbedaan kebijakan moneter antara Jepang dan Amerika Serikat mulai menyempit. Namun, pergerakan USDJPY tetap akan dipengaruhi oleh kekuatan dolar AS, imbal hasil obligasi, serta perkembangan data ekonomi kedua negara. Oleh karena itu, investor perlu mencermati pernyataan lanjutan pejabat BoJ dan data inflasi Jepang sebagai katalis penting yang dapat menentukan arah pergerakan yen dalam jangka pendek maupun menengah.
sumber : investing
