Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi Dua Minggu, Pasar Global Menanti Keputusan The Fed!

Dolar AS (USD) menguat pada perdagangan hari Selasa (27/10) dan mencapai level tertinggi dalam dua minggu, didukung oleh meningkatnya permintaan terhadap mata uang tersebut di tengah sikap hati-hati pelaku pasar menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Indeks Dolar AS (DXY) memperpanjang penguatannya setelah berhasil menembus level psikologis 102,00, sementara imbal hasil obligasi Treasury AS bergerak bervariasi. Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) dan konferensi pers Ketua The Fed, Warsh, yang berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS ke depan. Selain itu, pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi, termasuk permohonan hipotek MBA, neraca perdagangan barang, persediaan grosir, serta laporan mingguan persediaan minyak mentah AS dari EIA.

Di pasar valuta asing, EURUSD berada di bawah tekanan jual dan bergerak mendekati level terendah dua minggu di sekitar 1,1130. Pelemahan euro terjadi ketika dolar AS memperoleh dukungan menjelang agenda penting The Fed. Dari kawasan Eropa, perhatian investor tertuju pada rilis Indeks Keyakinan Konsumen GfK Jerman yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi kepercayaan konsumen dan prospek ekonomi negara dengan perekonomian terbesar di kawasan tersebut. Sementara itu, GBPUSD melanjutkan pelemahan selama tiga hari berturut-turut dan mendekati level 1,3300, yang menjadi area penting bagi pergerakan pasangan mata uang tersebut. Pelaku pasar Inggris juga menantikan penyampaian Anggaran Musim Gugur yang berpotensi memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan fiskal dan prospek ekonomi Inggris.

Sementara itu, USDJPY kembali menguat dan mendekati level 158,00, sekaligus mencatat posisi tertinggi dalam tiga hari terakhir. Penguatan ini mencerminkan ketahanan dolar AS di tengah perhatian pasar terhadap perbedaan prospek kebijakan moneter Amerika Serikat dan Jepang. Investor selanjutnya akan memantau data investasi obligasi asing mingguan dan Indeks Keyakinan Konsumen Jepang yang dijadwalkan rilis pada 29 Oktober 2026. Di sisi lain, AUDUSD menunjukkan kinerja yang lebih kuat dibandingkan sejumlah mata uang utama lainnya dan mencapai level tertinggi dalam lima minggu, menembus angka psikologis 0,7000. Perhatian pasar kini beralih pada data inflasi Australia bulan September, yang berpotensi memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA).

Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali mengalami tekanan dan bergerak mendekati US$99 per barel. Pelemahan tersebut memperpanjang penurunan yang terjadi pada hari Senin (26/10), seiring pelaku pasar terus mengevaluasi peluang tercapainya solusi diplomatik atas konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran serta risiko gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Harapan meredanya ketegangan geopolitik mengurangi sebagian premi risiko yang sebelumnya menopang harga minyak. Namun, ketidakpastian mengenai perkembangan negosiasi dan keamanan jalur distribusi energi masih berpotensi memicu volatilitas harga dalam waktu dekat.

Berbeda dengan minyak mentah, harga emas justru menguat signifikan dan melanjutkan kenaikan yang terjadi pada hari Senin (26/10), hingga mencapai level tertinggi dalam tiga hari terakhir di atas US$4.000 per troy ons. Penguatan emas didukung oleh pelemahan harga minyak mentah serta pergerakan imbal hasil obligasi Treasury AS yang bervariasi, sehingga memberikan ruang bagi logam mulia tersebut untuk kembali menarik minat investor. Secara keseluruhan, pasar global kini berada dalam fase menunggu menjelang keputusan The Fed, dengan arah dolar AS, mata uang utama, minyak mentah, dan emas berpotensi ditentukan oleh sinyal kebijakan moneter serta perkembangan geopolitik. Pelaku pasar perlu mencermati hasil pertemuan FOMC dan data ekonomi yang dirilis karena keduanya dapat memicu perubahan sentimen dan meningkatkan volatilitas di berbagai instrumen keuangan.

 

 

Sumber : fxstreet