Harga Minyak WTI Tertekan, tetapi Ancaman Konflik Timur Tengah Tahan Penurunan
Harga West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi salah satu patokan utama minyak mentah Amerika Serikat, melanjutkan pelemahan pada awal perdagangan pekan ini setelah dibuka dengan gap down. Harga WTI kembali menjauh dari level tertinggi dalam lima bulan yang dicapai pada hari Jumat (23/10) dan bergerak turun ke bawah pertengahan level US$100-an pada perdagangan hari Senin. WTI diperdagangkan turun 2,2% ke level US$101,19 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.55 WIB. Meski demikian, ruang penurunan harga minyak masih terlihat terbatas karena ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah tetap tinggi dan berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global.
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu (25/10) menepis kemungkinan dilakukannya aksi militer segera terhadap Iran. Sebelumnya, Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat mungkin perlu menyelesaikan sejumlah persoalan atau mencapai kesepakatan dengan Teheran di tengah meningkatnya ancaman dari Iran dan kelompok Houthi terhadap kepentingan AS di kawasan tersebut. Pernyataan tersebut untuk sementara meredakan kekhawatiran terhadap kemungkinan eskalasi konflik dan memunculkan harapan terjadinya de-eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Meredanya kekhawatiran konflik secara langsung kemudian mendorong aksi jual terhadap minyak mentah pada awal pekan. Investor melihat peluang bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dapat diredakan melalui jalur diplomasi, sehingga risiko gangguan terhadap pasokan minyak global menjadi lebih kecil. Kondisi tersebut memberikan tekanan tambahan bagi WTI, terutama setelah harga sebelumnya mencatat kenaikan tajam hingga mencapai level tertinggi dalam lima bulan.
Namun, prospek penurunan harga minyak belum sepenuhnya meyakinkan. Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada sebuah saluran berita Israel bahwa Presiden Trump siap mengubah pendekatannya terhadap Iran. Pejabat tersebut bahkan menyebut bahwa kemungkinan serangan militer kini bukan lagi persoalan apakah akan terjadi, melainkan kapan. Di sisi lain, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman kembali mengancam akan melanjutkan serangan terhadap Bandara King Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa risiko geopolitik di kawasan masih jauh dari mereda.
Selain itu, mandeknya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran membuat premi risiko geopolitik tetap menjadi faktor penting bagi pasar energi. Setiap perkembangan yang mengarah pada eskalasi konflik berpotensi kembali memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dan memberikan dukungan terhadap harga minyak mentah. Dengan demikian, meskipun WTI saat ini berada di bawah tekanan akibat harapan de-eskalasi, investor tetap perlu mencermati perkembangan hubungan AS-Iran dan aktivitas kelompok yang berafiliasi dengan Iran di kawasan. Kombinasi antara sentimen geopolitik dan prospek pasokan energi akan menjadi penentu utama arah harga WTI dalam perdagangan berikutnya.
sumber : fxstreet
