Emas Tertekan di Bawah US$4.000, Gejolak Timur Tengah dan Ancaman Suku Bunga Jadi Sorotan

Harga emas (XAUUSD) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan hari Jumat (23/10), turun 0,61% dan berpotensi mencatat pelemahan sepanjang pekan. Kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi sekaligus memperbesar peluang bank-bank sentral utama mempertahankan kebijakan moneter ketat. XAUUSD ditutup di US$3.999,74 per troy ounce setelah sempat menyentuh level terendah dalam tiga bulan di US$3.975,42. Sepanjang pekan ini, emas batangan diperkirakan merosot hampir 3,90% di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Situasi geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang membayangi pasar. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Israel tengah mempersiapkan kemungkinan serangan terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS. Di saat yang sama, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan menyerang kapal-kapal yang melintasi apa yang mereka sebut sebagai “rute ilegal” di Selat Hormuz. Ketegangan juga meningkat setelah terjadi baku tembak antara kelompok Houthi dan Arab Saudi. Perkembangan tersebut menambah ketidakpastian di pasar keuangan, meskipun secara historis konflik geopolitik sering kali meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai.

Dari Amerika Serikat, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan gambaran yang beragam. Indeks Sentimen Konsumen University of Michigan turun ke level terendah dalam lima bulan pada Oktober 2026, dari 48,1 menjadi 48. Pelemahan sentimen tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga energi dan kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam waktu lebih lama. Ekspektasi inflasi konsumen tidak berubah dibandingkan laporan sebelumnya, tetapi masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2%. Konsumen memperkirakan inflasi dalam 12 bulan ke depan mencapai 4,7%, sedangkan ekspektasi inflasi untuk lima tahun berada di 3,5%.

Di sisi lain, aktivitas bisnis AS masih menunjukkan ketahanan. Data awal S&P Global memperlihatkan bahwa aktivitas manufaktur meningkat tipis, dengan indeks PMI manufaktur naik dari 55,9 menjadi 56 pada Oktober 2026. Namun, pertumbuhan sektor jasa melambat dari 58,8 menjadi 57,9, sesuai dengan perkiraan analis. Sementara itu, ketegangan geopolitik terus menopang harga minyak. Harga West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah AS, melonjak lebih dari 4% dan kembali menembus level US$100 per barel. Lonjakan harga energi tersebut berpotensi memperbesar tekanan inflasi dan dapat memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed ke depan.

Meski inflasi konsumen dan produsen AS menunjukkan tekanan yang tinggi pada pekan sebelumnya, pasar keuangan kini hampir menghapus kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed pekan ini. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada Desember 2026 masih berada di sekitar 78%, menurut Prime Terminal. Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada agenda ekonomi AS yang padat, terutama rapat The Fed pada Selasa (27/10) dan Rabu (28/10). Sehari setelahnya, investor akan mencermati data Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) inti, yang menjadi salah satu indikator inflasi pilihan utama The Fed. Hasil kedua agenda tersebut berpotensi menjadi penentu arah emas dan pasar keuangan secara lebih luas.


sumber : fxstreet