Pound Bergerak Datar, Meski Penjualan Ritel Inggris Melemah
Pound Inggris (GBP) bergerak datar terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan hari Jumat, meskipun data penjualan ritel Inggris menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan. Pasangan mata uang GBPUSD bertahan di sekitar level 1,3390, sedikit di bawah level tertinggi bulanan 1,3419 yang dicapai pada hari Kamis (22/10). Pergerakan Pound tetap relatif stabil karena pelaku pasar masih memperkirakan adanya kemungkinan pengetatan kebijakan moneter oleh Bank of England (BoE) dalam waktu dekat.
Data yang dirilis Kantor Statistik Nasional Inggris menunjukkan bahwa penjualan ritel pada September mengalami penurunan 0,4%. Angka tersebut jauh lebih buruk dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan hanya 0,1%. Meski demikian, data Agustus direvisi naik menjadi pertumbuhan 0,7%, dari sebelumnya diperkirakan sebesar 0,5%. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap konsumsi masyarakat Inggris masih menjadi perhatian, meskipun kinerja pada bulan sebelumnya ternyata lebih kuat dari perkiraan awal.
Tekanan yang sama terlihat pada penjualan ritel inti, yang tidak memperhitungkan penjualan kendaraan bermotor dan bahan bakar. Indikator tersebut turun 0,7% pada September, jauh di bawah konsensus pasar yang memperkirakan penurunan sebesar 0,1%. Secara tahunan, pertumbuhan penjualan hanya mencapai 0,8%, baik secara keseluruhan maupun pada komponen inti, masih berada di bawah ekspektasi pasar masing-masing sebesar 1% dan 1,5%. Kendati demikian, Pound tetap menjadi salah satu mata uang utama dengan kinerja terbaik sepanjang pekan ini.
Penguatan Pound terutama ditopang oleh data inflasi Inggris yang lebih tinggi dari perkiraan. Data Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) yang dirilis pada hari Rabu (21/10) memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih bertahan, antara lain akibat tingginya harga minyak. Kondisi tersebut meningkatkan spekulasi bahwa BoE dapat terdorong untuk mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan moneternya pada pertemuan 5 November 2026. Di sisi lain, Dolar AS masih berada dalam tekanan karena pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang, di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai potensi gelembung saham berbasis kecerdasan buatan (AI), turut mendorong investor mencari aset yang lebih aman.
Analis ING menilai bahwa pasar valuta asing kini akan mencermati pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor pendek dengan sangat saksama. Ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan moneter The Fed masih dinilai cukup kuat, berada di kisaran 75 basis poin dalam beberapa pekan terakhir. Namun, ING memperingatkan bahwa gejolak pada saham-saham teknologi dapat mengubah persepsi pasar terhadap prospek suku bunga jangka pendek menjadi lebih dovish. Jika hal tersebut terjadi, Dolar AS berpotensi menghadapi tekanan jual yang lebih luas, sementara Pound dapat kembali memperoleh momentum penguatan.
sumber : fxstreet
