Dolar AS Tertekan Keragu-raguan Prospek Perdagangan AI
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja dolar AS (USD) terhadap enam mata uang utama, masih berada di bawah tekanan untuk hari keempat berturut-turut. Pada perdagangan hari Jumat, DXY bergerak di sekitar level 101,51. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor di tengah perubahan sentimen pasar dan berkurangnya keyakinan terhadap keberlanjutan reli aset yang berkaitan dengan sektor kecerdasan buatan (AI).
Keraguan terhadap prospek perdagangan AI semakin meningkat setelah sejumlah perusahaan teknologi berkapitalisasi besar membukukan laporan pendapatan kuartalan yang tidak mampu memenuhi ekspektasi pasar. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor mengenai tingginya valuasi serta besarnya investasi di sektor AI yang belum sepenuhnya diikuti oleh pertumbuhan keuntungan. Pergeseran sentimen ini mendorong investor untuk lebih selektif dalam mengambil risiko dan turut membatasi ruang penguatan dolar AS.
Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk sentimen pasar secara keseluruhan. Laporan mengenai persiapan Amerika Serikat dan Israel untuk kemungkinan melancarkan serangan militer tambahan terhadap Iran setelah pemilu sela AS meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven. Kondisi tersebut membuat Yen Jepang dan Franc Swiss cenderung lebih diminati dibandingkan dolar AS, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap pergerakan DXY.
Dari sisi kebijakan moneter, sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) mengisyaratkan bahwa belum terdapat urgensi untuk mempercepat pengetatan kebijakan. Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyatakan optimisme terhadap fundamental ekonomi AS, tetapi tidak memberikan petunjuk tegas mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya. Sikap tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS akan mengambil pendekatan hati-hati. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan probabilitas sekitar 92,8% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober 2026 mendatang.
Sementara itu, analis ING menilai kondisi pasar saat ini cenderung lebih mendukung kinerja mata uang defensif dibandingkan mata uang berbasis komoditas, yang menunjukkan adanya pergeseran preferensi investor dari aset valuta asing berisiko tinggi. Namun, mereka menilai penguatan dolar secara keseluruhan masih sulit untuk diabaikan selama imbal hasil obligasi AS jangka pendek tetap kokoh. Dengan demikian, meskipun performa relatif mata uang G10 mulai mengarah ke aset-aset yang lebih defensif, kekuatan imbal hasil AS jangka pendek masih menjadi faktor penting yang dapat menjaga dukungan terhadap dolar AS.
sumber : fxstreet
