Pasar Tenang, Inflasi Inggris Jadi Sorotan

Pasar keuangan bergerak relatif tenang pada pertengahan pekan di tengah minimnya rilis data ekonomi makro utama. Pound Inggris sempat mengalami volatilitas setelah data inflasi Inggris dirilis, tetapi pergerakannya tetap terbatas dan belum mampu menunjukkan arah yang kuat terhadap mata uang utama lainnya. Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) melaporkan bahwa inflasi tahunan berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat menjadi 3,5% pada September dari 3,1% pada Agustus, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 3,4%. Sementara itu, inflasi inti meningkat menjadi 2,8% dari 2,6% sebelumnya, sedangkan Indeks Harga Ritel naik 3,9% secara tahunan, sesuai dengan ekspektasi.

Setelah menguat sekitar 0,5% dan mencapai level tertinggi sejak pertengahan September 2026 di atas 1,3400 pada hari Selasa (20/10), GBP/USD bergerak relatif datar di sekitar 1,3370 pada awal perdagangan Eropa hari Rabu. Di Amerika Serikat, Indeks Dolar AS (DXY) ditutup melemah pada hari Selasa karena sentimen risk-on mendominasi pasar setelah Wall Street dibuka dengan penguatan. Pada awal perdagangan hari Rabu, DXY hanya mencatat kenaikan tipis dan masih berada di bawah level 102,00, sementara kontrak berjangka indeks saham AS naik sekitar 0,1% hingga 0,5%. Perhatian investor juga tertuju pada laporan perusahaan teknologi, setelah SpaceX mengumumkan pertumbuhan pendapatan sebesar 161% pada kuartal III, sementara Tesla dijadwalkan merilis laporan keuangannya setelah penutupan pasar.

Di pasar energi, perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi perhatian. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa perundingan tidak langsung dengan Washington masih berlangsung melalui sejumlah negara perantara. Ia menyebut AS telah menerima proposal Iran untuk periode tujuh hari, tetapi berupaya menambahkan sejumlah persyaratan. Araghchi juga menyatakan bahwa Teheran masih meragukan tingkat kepercayaan terhadap Washington dalam proses tersebut. Ketidakpastian ini membuat harga minyak kembali bergerak volatil. Harga WTI naik sekitar 1% pada Rabu setelah mengalami pergerakan tajam pada sesi sebelumnya.

Analis Deutsche Bank menilai perdagangan minyak pada hari Selasa didominasi volatilitas akibat perkembangan berita mengenai negosiasi Timur Tengah. Harga Brent sempat anjlok dari sekitar US$112 menjadi US$106 per barel setelah muncul laporan yang belum terkonfirmasi bahwa Qatar dan Pakistan mengajukan proposal untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai. Namun, penurunan tersebut segera berbalik setelah laporan mengenai kemajuan negosiasi dibantah oleh salah satu diplomat yang terlibat. Perubahan narasi tersebut kembali mendorong harga minyak naik karena pasar menilai bahwa meskipun pembicaraan masih berlangsung, belum ada kesepakatan konkret yang hampir tercapai. Situasi ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar minyak terhadap setiap perkembangan diplomatik di Timur Tengah.

Sementara itu, USDJPY masih bergerak sideways di sekitar 158,00 pada awal perdagangan Eropa. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan bahwa pemerintah terus berkoordinasi erat dengan Bank of Japan (BoJ) dan tidak terdapat perbedaan besar mengenai prospek inflasi maupun kebijakan moneter. Data Jepang menunjukkan ekspor dan impor masing-masing meningkat 16,7% dan 18,9% secara tahunan pada September, meskipun keduanya berada di bawah perkiraan analis. Di kawasan Euro, EUR/USD juga bergerak dalam kisaran sempit di atas 1,1200 untuk hari ketiga berturut-turut, dengan perhatian pasar tertuju pada pidato Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde. Sementara itu, harga emas masih berada di bawah tekanan setelah ditutup sedikit lebih rendah pada hari Selasa dan bergerak mendekati US$4.100 per troy ons pada awal hari Rabu.


sumber : fxstreet