Dolar Melemah, Harapan Damai Tekan Minyak
Dolar AS (USD) melanjutkan koreksinya pada hari Selasa (20/10) dan sempat menyentuh level terendah dalam tiga pekan. Pelemahan tersebut terjadi ketika investor terus mencermati peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun informasi mengenai potensi kesepakatan tersebut masih belum terkonfirmasi. Sentimen pasar secara keseluruhan juga membaik, mendorong investor untuk meningkatkan eksposur terhadap aset berisiko. Indeks Dolar AS (DXY) kembali melemah dan sempat turun ke sekitar 101,31. Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada data MBA Mortgage Applications dan laporan mingguan Energy Information Administration (EIA) mengenai persediaan minyak mentah AS.
Di pasar valuta asing, EURUSD melanjutkan pemulihan meskipun momentum penguatannya tertahan di sekitar level 1,1260. Investor selanjutnya akan mencermati data awal kepercayaan konsumen kawasan Euro yang dijadwalkan dirilis hari Kamis (22/10). Sementara itu, GBPUSD memperoleh momentum tambahan dan naik ke level tertinggi dalam lima pekan, tepat di atas 1,3400. Perhatian pelaku pasar di Inggris akan tertuju pada data inflasi utama serta angka pinjaman bersih sektor publik yang berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Bank of England.
Di Jepang, USDJPY masih bergerak dalam pola konsolidasi dengan kecenderungan melemah dan kembali mendekati area 158,00. Data Neraca Perdagangan Jepang akan menjadi salah satu agenda utama yang dicermati investor. Di Australia, AUDUSD mencatat penguatan untuk hari ketiga berturut-turut dan kembali menguji level psikologis 0,7000. Pergerakan dolar Australia mendapat dukungan dari membaiknya sentimen risiko global. Selanjutnya, pelaku pasar akan menantikan rilis awal PMI Manufaktur dan Jasa S&P Global Australia pada 23 Oktober 2026 untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi aktivitas ekonomi negara tersebut.
Di pasar komoditas, kontrak berjangka WTI menghadapi tekanan jual baru meskipun sebelumnya sempat menembus level psikologis US$100 per barel. Ekspektasi bahwa kesepakatan dapat tercapai untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah tampaknya mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga minyak. Jika ketegangan berlanjut mereda, pasar berpotensi kembali berfokus pada kondisi pasokan dan permintaan global, sehingga ruang penguatan WTI dapat menjadi lebih terbatas.
Sementara itu, harga emas melanjutkan pelemahannya dan turun mendekati level US$4.100 per troy ons pada hari Selasa. Koreksi tersebut terjadi meskipun Dolar AS melemah dan imbal hasil obligasi pemerintah AS secara umum bergerak turun. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan jual terhadap emas tidak semata-mata berasal dari pergerakan USD dan imbal hasil obligasi, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh aksi ambil untung setelah penguatan sebelumnya. Untuk perdagangan selanjutnya, investor akan mencermati perkembangan hubungan AS-Iran, arah sentimen risiko global, serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter bank sentral utama.
sumber : fxstreet
