Dolar AS Bangkit, Pasar Global Kembali Bergejolak

Dolar AS (USD) mulai mendapatkan kembali momentum setelah mengakhiri dua hari penurunan berturut-turut. Penguatan tersebut didukung oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta kembali munculnya kekhawatiran sosial dan politik di Prancis. Indeks Dolar AS (DXY) ditutup naik 0,2% ke level 101,8 pada hari Senin (19/10), sekaligus menghapus sebagian pelemahan yang terjadi pada pekan sebelumnya. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada sejumlah data ekonomi AS, termasuk perubahan ketenagakerjaan ADP mingguan, penjualan rumah tertunda, perumahan baru, izin mendirikan bangunan, serta laporan mingguan API mengenai persediaan minyak mentah AS.

Di pasar Eropa, kekhawatiran baru terkait kondisi politik dan sosial Prancis memberikan tekanan terhadap euro. EURUSD memangkas sebagian penguatan sebelumnya dan kembali bergerak menuju area 1,1200. Investor selanjutnya akan mencermati data Neraca Transaksi Berjalan kawasan Euro dan output konstruksi, sebelum beralih ke indikator Sentimen Ekonomi ZEW dari Jerman dan kawasan Euro secara keseluruhan. Sementara itu, GBPUSD juga melepas sebagian pemulihan dalam dua hari sebelumnya, meskipun pasangan mata uang tersebut masih menemukan dukungan di sekitar level 1,3300. Data pasar tenaga kerja Inggris akan menjadi perhatian utama investor.

Di Jepang, USDJPY kembali memperpanjang fase konsolidasi setelah menghentikan tren penurunan selama tiga hari berturut-turut. Pasangan tersebut bergerak naik dan berhasil menembus level 158,00. Perhatian pasar kini beralih pada data Neraca Perdagangan Jepang yang berpotensi memberikan petunjuk mengenai kondisi eksternal ekonomi Negeri Sakura. Sementara itu, dolar Australia memperoleh dukungan dari rilis data ekonomi Tiongkok yang relatif kuat. AUDUSD kembali mendekati level psikologis 0,7000 dan melanjutkan pemulihan yang dimulai pada hari Jumat (16/10). Selanjutnya, pasar Australia akan mencermati rilis awal PMI Manufaktur dan Jasa S&P Global pada 23 Oktober 2026.

Di pasar komoditas, kontrak berjangka WTI menghadapi tekanan jual baru pada hari Senin dan sempat turun menembus level US$97 per barel. Pelemahan tersebut mencerminkan aksi ambil untung setelah penguatan sebelumnya, sekaligus mencerminkan evaluasi investor terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina. Pasar juga mempertimbangkan dampak pelonggaran tarif dan sanksi AS terhadap Rusia terhadap ekspor minyak mentah negara tersebut. Perkembangan tersebut menjadi faktor penting karena perubahan arus pasokan global dapat memengaruhi keseimbangan pasar minyak dalam beberapa waktu ke depan.

Sementara itu, harga emas melanjutkan koreksi yang dimulai pada hari Jumat dan turun di bawah level US$4.150 per troy ons. Pelemahan emas terjadi seiring dengan rebound Dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS di berbagai tenor. Kondisi tersebut meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas. Dengan demikian, arah pasar dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan USD dan imbal hasil Treasury AS, di samping perkembangan geopolitik serta serangkaian data ekonomi utama yang akan dirilis dalam beberapa hari mendatang.


sumber : fxstreet