WTI Tertekan, Risiko Geopolitik Masih Menopang Harga
Harga West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi patokan minyak mentah Amerika Serikat, mengawali pekan dengan tekanan setelah mencatat penguatan signifikan pada hari Jumat (16/10) lalu hingga mencapai kisaran US$101,83 per barel, level tertinggi dalam satu bulan. WTI diperdagangkan turun 2,02% ke level US$96,93 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.35 WIB di hari Senin. Pelemahan ini dipicu oleh harapan membaiknya pasokan minyak setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perintah yang memberikan pengecualian terhadap sebagian besar sanksi dan tarif yang dikenakan kepada Rusia.
Meski demikian, potensi penurunan harga minyak masih terbatas oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Selat Hormuz. Selama akhir pekan, tiga kapal tanker dilaporkan mengalami kerusakan di wilayah tersebut. Pada saat yang sama, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap ditutup dan kapal hanya dapat melintas dengan izin dari pihak Iran. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak global melalui salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia.
Ketegangan semakin meningkat setelah Mohsen Rezaei, salah satu pejabat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, memperingatkan bahwa Teheran telah menyiapkan rencana pembalasan baru apabila kembali terjadi serangan Amerika Serikat dan Israel. Di sisi lain, Ukraina melancarkan lebih dari 1.000 drone ke wilayah Rusia pada Minggu dalam salah satu serangan udara terbesar sejak perang berlangsung. Serangan tersebut dilaporkan memicu kebakaran di terminal ekspor minyak dan fasilitas penyimpanan di St. Petersburg, sehingga kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi.
Sementara itu, ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman juga belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Rangkaian perkembangan tersebut membuat premi risiko geopolitik di pasar minyak tetap tinggi. Kondisi ini berpotensi memberikan dukungan terhadap harga WTI meskipun terdapat ekspektasi peningkatan pasokan akibat pelonggaran sejumlah pembatasan terhadap Rusia.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, penurunan harga WTI saat ini belum cukup untuk mengonfirmasi bahwa tren penguatan yang berlangsung selama sekitar tiga pekan terakhir telah berakhir. Pelaku pasar kemungkinan akan mencermati perkembangan geopolitik dan kondisi pasokan global sebelum mengambil posisi lebih agresif. Oleh karena itu, diperlukan tekanan jual yang lebih kuat dan berkelanjutan untuk memastikan bahwa momentum bullish WTI benar-benar mulai kehilangan tenaga.
sumber : fxstreet
