WTI Bertahan di Atas US$97, Risiko Timur Tengah Jadi Penopang

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak AS, melemah tipis pada hari Jumat, tetapi masih bertahan di atas pertengahan US$97 per barel dan dekat dengan level tertinggi hampir empat minggu yang dicapai pada hari sebelumnya. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan jual masih terbatas meski pasar mulai merespons meredanya sebagian kekhawatiran terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dirinya tidak akan menggunakan senjata nuklir terhadap Iran dan tidak memperkirakan pengerahan pasukan darat Amerika ke Republik Islam tersebut. Pernyataan ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan eskalasi militer yang lebih luas dan memberikan tekanan terhadap harga WTI. Namun, investor tetap mempertahankan sebagian premi risiko geopolitik di tengah ketidakpastian situasi regional.

Ketegangan antara kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman dan Arab Saudi menjadi salah satu faktor yang masih menopang harga minyak. Meningkatnya intensitas pertempuran memperkuat kekhawatiran terhadap potensi gangguan terhadap infrastruktur energi dan jalur distribusi minyak di kawasan tersebut. Kondisi ini membuat penurunan WTI relatif terbatas meskipun sentimen risiko mulai membaik.

Selain itu, kebuntuan antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz terus menjadi perhatian utama pasar minyak. Selat tersebut merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global, sehingga setiap perkembangan yang meningkatkan risiko gangguan terhadap arus minyak berpotensi mempertahankan premi risiko pada harga WTI. Dengan demikian, perkembangan geopolitik masih menjadi penggerak utama di tengah minimnya katalis fundamental baru dari sisi pasokan dan permintaan.

Ke depan, WTI berpotensi tetap bergerak volatil dengan level US$97 sebagai area penting untuk mempertahankan momentum bullish jangka pendek. Meredanya ancaman eskalasi langsung AS-Iran dapat membatasi kenaikan, tetapi konflik Houthi-Saudi dan ketidakpastian di sekitar Selat Hormuz berpotensi memberikan bantalan bagi harga. Investor akan terus mencermati perkembangan geopolitik Timur Tengah untuk menentukan arah berikutnya minyak mentah AS.


sumber : fxstreet