DXY Terkoreksi Tipis, Sikap Hawkish The Fed Topang USD

Indeks Dolar AS (DXY) melemah tipis pada perdagangan hari Selasa, setelah mencatat kenaikan kuat pada hari sebelumnya hingga mencapai level tertinggi sejak April 2025. DXY bergerak sedikit di 102,2 dan terkoreksi 0,17% pada sesi awal Eropa. Meski demikian, pelemahan ini belum menunjukkan perubahan tren yang signifikan karena prospek kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed) dan meningkatnya risiko inflasi masih menjadi faktor pendukung Greenback. Kondisi tersebut membuka peluang munculnya aksi beli ketika DXY bergerak ke level yang lebih rendah.

Dukungan fundamental bagi USD berasal dari ekspektasi bahwa The Fed masih akan mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan inflasi. Risalah rapat FOMC September 2026 menegaskan bahwa para pembuat kebijakan masih memandang inflasi sebagai ancaman utama terhadap stabilitas ekonomi dan mempertimbangkan pengetatan lebih lanjut. Kekhawatiran terhadap kenaikan harga energi juga berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi dan menopang imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kombinasi tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun, yang dapat memberikan dukungan lanjutan bagi DXY.

Sentimen hawkish semakin kuat setelah Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, menyampaikan pandangan yang mendukung suku bunga lebih tinggi. Skor FXS Speechtracker Hammack mencapai 8,4 dari 10, jauh di atas rata-rata historis 7,5. Ia menekankan pentingnya mempertahankan kebijakan restriktif hingga inflasi kembali menuju target 2%, sekaligus memperingatkan bahwa ekspektasi kenaikan harga berpotensi semakin mengakar. Kondisi keuangan yang dinilai masih netral, pertumbuhan ekonomi yang berlanjut, serta pasar tenaga kerja yang relatif stabil turut memperkuat alasan untuk mempertahankan kebijakan ketat. Sementara itu, FXS Fed Sentiment Index meningkat 0,59 poin menjadi 138,92, mencerminkan kecenderungan komunikasi The Fed yang semakin hawkish dan berpotensi menopang USD.

Dari sisi geopolitik, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah turut membatasi potensi pelemahan Dolar AS. Kelompok Houthi yang didukung Iran kembali meluncurkan rudal ke arah Arab Saudi pada hari Senin (12/10), menyusul serangan mematikan di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh selama akhir pekan. Arab Saudi telah menjanjikan pembalasan, sementara Presiden AS Donald Trump membuka kemungkinan keterlibatan Washington dalam serangan terhadap Houthi dan melanjutkan aksi militer terhadap Iran. Ketidakpastian tersebut menjaga permintaan terhadap USD sebagai aset safe haven dan dapat menahan tekanan jual lebih lanjut pada DXY, meskipun indeks sedang mengalami koreksi jangka pendek.

Ke depan, perhatian pasar tertuju pada data inflasi AS, yakni Indeks Harga Konsumen (CPI) pada hari Rabu (14/10) dan Indeks Harga Produsen (PPI) pada hari Kamis (15/10). Kedua laporan tersebut berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat prospek kebijakan ketat dan mendorong DXY melanjutkan kenaikan, sedangkan data yang lebih rendah berpotensi memperpanjang koreksi Greenback. Selain itu, pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pada hari Jumat (16/10) akan menjadi perhatian untuk mencari petunjuk kebijakan selanjutnya. Secara keseluruhan, DXY masih memiliki dukungan fundamental dari sikap hawkish The Fed dan risiko geopolitik, sehingga pelemahan saat ini perlu dikonfirmasi lebih lanjut sebelum dianggap sebagai awal pembalikan tren.


sumber : fxstreet