DXY Tembus 102,3, Konflik Geopolitik Dorong Penguatan USD
Dolar Amerika Serikat (USD) menguat dan bertahan di dekat level tertinggi tahun berjalan setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta berlanjutnya serangan antara Rusia dan Ukraina mendorong harga energi lebih tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap USD sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian pasar global. Penguatan Greenback juga didukung pernyataan hawkish Presiden Federal Reserve (The Fed) Cleveland, Beth Hammack, yang memperkuat spekulasi bahwa suku bunga AS berpotensi bertahan tinggi atau mengalami kenaikan lebih lanjut. Indeks Dolar AS (DXY) bergerak di sekitar 102,39 dengan momentum bullish, sekaligus membuka peluang pengujian level 103,31, yang merupakan level tertinggi harian pada 10 April 2025.
Dari sisi fundamental, perhatian pelaku pasar tertuju pada perkembangan pasar tenaga kerja AS melalui rata-rata empat minggu perubahan ketenagakerjaan ADP, data sektor perumahan, serta pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller. Data yang menunjukkan ketahanan ekonomi dan pasar tenaga kerja dapat memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat, sehingga memberikan dukungan tambahan bagi USD. Sebaliknya, pelemahan indikator ekonomi berpotensi mengurangi momentum penguatan Greenback. Dengan meningkatnya risiko geopolitik dan ekspektasi suku bunga, DXY masih memiliki peluang melanjutkan kenaikan, meskipun arah berikutnya akan bergantung pada kombinasi data ekonomi dan komunikasi para pejabat The Fed.
Di pasar valuta asing Eropa, EURUSD menembus ke bawah level 1,1200 dan merosot ke 1,1152, level terendah dalam 17 bulan. Pelemahan euro terjadi di tengah minimnya katalis ekonomi dan dominasi penguatan USD. Pada hari Selasa, pasar akan mencermati data Indeks Harga Konsumen Diharmonisasi (HICP) Jerman serta pernyataan anggota Bank Sentral Eropa (ECB), Elderson dan Escriva, untuk mencari petunjuk mengenai prospek ekonomi dan kebijakan moneter kawasan euro. Sementara itu, GBPUSD bergerak turun mendekati 1,3200 setelah tekanan dari komentar hawkish Hammack. Data Penjualan Ritel Like-For-Like BRC Inggris untuk September dan pernyataan anggota Bank of England, Megan Greene, berpotensi memengaruhi pergerakan pound sterling selanjutnya.
USDJPY berkonsolidasi di sekitar 158,50, dengan penguatan USD menopang pasangan mata uang tersebut. Namun, kekhawatiran terhadap kemungkinan intervensi otoritas Jepang membatasi ruang kenaikannya, terutama ketika nilai tukar berada pada level yang sensitif bagi pasar. Di Australia, AUDUSD melanjutkan pelemahan menuju 0,6960 setelah gagal menembus level 0,7000. Pelaku pasar akan mencermati risalah rapat Reserve Bank of Australia (RBA) untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga, disusul indikator NAB Business Confidence. Perbedaan prospek kebijakan moneter antara negara-negara utama tersebut, ditambah perubahan sentimen risiko global, akan terus memengaruhi pergerakan pasangan mata uang dalam jangka pendek.
Sementara itu, harga emas (XAUUSD) masih kesulitan menembus resistance US$4.200 per troy ons dan bergerak turun menuju US$4.150, meskipun tekanan jual mulai kehilangan momentum. Penguatan USD dan spekulasi suku bunga AS yang lebih tinggi menjadi faktor utama yang membatasi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil. Jika harga menembus ke bawah US$4.150, tekanan bearish berpotensi berlanjut. Namun, pelemahan USD atau meningkatnya permintaan safe haven dapat memberikan dukungan bagi pemulihan emas. Pelaku pasar kini menantikan rangkaian data ekonomi AS pada hari Selasa, pernyataan pejabat The Fed, serta laporan inflasi konsumen AS (CPI) September 2026 pada hari Rabu (14/10). Secara keseluruhan, USD masih mendapat dukungan dari risiko geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter ketat, sementara arah emas dan mata uang utama lainnya akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan data ekonomi AS berikutnya.
sumber : fxstreet
