DXY Tertahan di Atas 102, Data CPI AS Jadi Penentu Arah Berikutnya

Indeks Dolar AS (DXY) masih kesulitan melanjutkan penguatan setelah mencapai level tertinggi sejak April 2025. Diperdagangkan di atas 102, indeks ini membentuk pola lower high dalam beberapa hari terakhir, mengindikasikan momentum kenaikan yang mulai melemah. Kondisi tersebut terjadi meskipun sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) kembali menyuarakan perlunya kenaikan suku bunga dan imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun sempat mencapai level tertinggi sejak 2002. Kini, perhatian pasar tertuju pada rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada 14 Oktober 2026 yang berpotensi menjadi katalis utama bagi pergerakan DXY.

Dukungan terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat datang dari Gubernur The Fed Christopher Waller, yang menilai kenaikan suku bunga tambahan diperlukan, meskipun tidak harus dilakukan pada pertemuan berturut-turut. Presiden The Fed St. Louis, Musalem, juga menyampaikan pandangan bahwa suku bunga seharusnya meningkat dalam enam hingga sembilan bulan ke depan. Risalah rapat The Fed pada 15–16 September menunjukkan mayoritas pejabat memperkirakan kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun. Proyeksi median suku bunga sebesar 4,1% pada akhir 2026 mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 25 basis poin dari kisaran saat ini, yakni 3,75%–4,00%. Namun, ekspektasi tersebut belum cukup kuat untuk mendorong DXY menembus level tertinggi sebelumnya.

Pasar berjangka saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 20% pada pertemuan 28 Oktober 2026 dan mendekati 70% pada pertemuan 9 Desember 2026. Sementara itu, imbal hasil Treasury dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, turun dari 4,84% pada hari Senin (5/10) menjadi 4,75% pada hari Kamis (8/10). Imbal hasil Treasury 10 tahun juga terkoreksi menuju 5,25%. Dari sisi ekonomi, survei pendahuluan University of Michigan menunjukkan sentimen konsumen AS melemah menjadi 46,3, di bawah prakiraan 47,6. Meski demikian, ekspektasi inflasi konsumen meningkat menjadi 4,7% untuk satu tahun dan 3,5% untuk lima tahun, sehingga tekanan harga tetap menjadi perhatian penting bagi pembuat kebijakan. Pergerakan DXY pada hari Jumat (9/10) turut dipengaruhi pelemahan dolar Kanada setelah Kanada melaporkan kehilangan 68.300 pekerjaan, mendorong USDCAD ke level tertinggi dalam 18 bulan. Namun, euro yang memiliki bobot terbesar dalam DXY masih bertahan di atas area 1,1150 terhadap dolar AS, sehingga membatasi dukungan bagi indeks tersebut.

Katalis utama berikutnya adalah data CPI AS September yang dijadwalkan rilis pada Rabu, 14 Oktober 2026, pukul 19.30 WIB. Inflasi utama diprakirakan naik 0,6% secara bulanan, dengan laju tahunan meningkat menjadi 3,6% dari 3,4%. Sementara itu, CPI inti yang tidak memasukkan makanan dan energi diperkirakan naik 0,2% secara bulanan, melambat dari 0,3%, dengan inflasi tahunan mencapai 2,5%. Hasil CPI inti sebesar 0,3% atau lebih berpotensi menghidupkan kembali spekulasi kenaikan suku bunga pada Oktober 2026 dan membuka peluang DXY menembus 102,50. Sebaliknya, hasil sebesar 0,2% dapat mempertahankan ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember 2026 tanpa memperkuat peluang tindakan lebih cepat, sehingga indeks berpotensi tetap bergerak dalam kisaran perdagangan saat ini.

Selain CPI, pelaku pasar akan mencermati Beige Book The Fed pada Kamis (15/10) dini hari pukul 01.00 WIB, disusul data Indeks Harga Produsen (PPI) dan penjualan ritel AS pada hari Kamis (15/10). Penjualan ritel diprakirakan tumbuh 0,3%, melambat dari 1,2% pada Agustus. Hasil yang lebih kuat dapat memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter, sedangkan data yang lebih lemah berpotensi menambah tekanan terhadap dolar AS. Pernyataan Ketua The Fed Warsh serta komentar Gubernur Bank of Canada Macklem juga dapat memengaruhi pergerakan USD dan dolar Kanada. Secara keseluruhan, arah DXY akan sangat bergantung pada kombinasi data inflasi, aktivitas konsumsi, dan ekspektasi suku bunga. CPI yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi mendorong penguatan dolar dan menguji level 102,50, sementara inflasi yang lebih rendah dapat memperpanjang fase konsolidasi atau meningkatkan tekanan jual pada indeks.


sumber : fxstreet