DXY Terkoreksi, Tapi USD Masih Sulit Ditumbangkan
Indeks Dolar AS (DXY) mengalami koreksi pada perdagangan hari Kamis, melanjutkan penurunan moderat dari hari sebelumnya setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak April 2025. Meski demikian, tekanan jual sejauh ini belum cukup untuk mengubah struktur bullish karena DXY masih mampu bertahan di atas level psikologis 102. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penurunan indeks masih berpotensi menjadi peluang bagi pembeli untuk kembali masuk, terutama karena fundamental yang mendukung USD tetap solid. Dengan demikian, para penjual perlu berhati-hati terhadap potensi rebound DXY dari level yang lebih rendah.
Salah satu penopang utama USD berasal dari ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang masih cenderung hawkish. Risalah rapat FOMC 15–16 September menunjukkan bahwa para pejabat secara bulat mendukung kenaikan kisaran target suku bunga federal funds, sementara sebagian besar peserta menilai kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan pada akhir tahun untuk menekan inflasi yang persisten. Pasar juga belum mengubah pandangannya secara signifikan. CME Group FedWatch Tool masih menunjukkan sekitar 80% peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2026. Ekspektasi tersebut menjaga daya tarik USD sekaligus membatasi potensi penurunan DXY secara lebih dalam.
Tekanan inflasi dan tingginya harga energi semakin memperkuat posisi USD. Kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan lebih lama dari perkiraan membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap tinggi di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Strategis Brown Brothers Harriman menilai harga energi yang tetap tinggi meningkatkan risiko terhadap inflasi, suku bunga kebijakan, dan imbal hasil obligasi acuan. Kondisi tersebut juga memberikan keuntungan relatif bagi USD dibandingkan mata uang negara-negara pengimpor energi. Ditambah dengan pertumbuhan ekonomi AS yang dinilai lebih kuat serta tingginya minat asing terhadap surat berharga AS, latar belakang fundamental tersebut masih memberikan alasan kuat bagi investor untuk mempertahankan eksposur terhadap Greenback.
Di sisi geopolitik, ketidakpastian di Timur Tengah kembali menjadi faktor yang berpotensi menguntungkan USD sebagai aset safe haven. Pentagon dilaporkan telah menginstruksikan Central Command (CENTCOM) AS untuk menyelesaikan persiapan menghadapi kemungkinan operasi tempur besar di Iran, sementara Presiden AS Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan waktu spesifik untuk melancarkan serangan. Sumber dari AS dan Israel menyebutkan kemungkinan langkah tersebut terjadi sebelum pemilu paruh waktu AS dan kemungkinan pemilu Israel. Jika ketegangan meningkat, premi risiko geopolitik berpotensi kembali mengalir ke aset safe haven, dengan USD menjadi salah satu penerima manfaat utama. Situasi ini menjadi alasan tambahan bagi investor untuk tidak terburu-buru mengantisipasi pembalikan bearish DXY.
Dengan kombinasi fundamental tersebut, DXY membutuhkan tekanan jual yang jauh lebih kuat untuk mengonfirmasi bahwa puncak jangka pendek telah terbentuk. Fokus pasar berikutnya akan tertuju pada data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal Mingguan AS serta komentar dari sejumlah pejabat FOMC yang dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter. Pada saat yang sama, perkembangan konflik di Timur Tengah berpotensi memicu volatilitas tajam di pasar valuta asing. Selama DXY mampu bertahan di atas 102 dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tetap kuat, bias pasar masih cenderung berpihak kepada pembeli USD, sehingga setiap penurunan berpotensi menjadi kesempatan untuk kembali melakukan aksi beli.
sumber : fxstreet
