USD Menguat, Inflasi Jadi Fokus Utama The Fed

Dolar AS (USD) mempertahankan penguatan terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan hari Selasa, didukung oleh tingginya imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) di tengah kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih persisten. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat naik sekitar 0,1% ke area 102,03 saat berita ini ditulis Pukul 13.50 WIB, tidak jauh dari level tertinggi tahunan 102,3 yang dicapai pada hari Senin. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun meningkat sekitar 0,24% menuju 5,32%, mendekati level tertinggi dalam dua dekade di 5,35%. Kondisi tersebut memberikan dukungan bagi USD karena aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik ketika imbal hasil obligasi meningkat.

Penguatan imbal hasil obligasi AS terjadi meskipun data Nonfarm Payrolls (NFP) September menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan. Data tersebut sebelumnya mendorong pelaku pasar untuk mengurangi ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed yang lebih hawkish dalam waktu dekat. Namun, pasar kini menilai bahwa arah kebijakan suku bunga The Fed tidak hanya ditentukan oleh kondisi pasar tenaga kerja, tetapi semakin bergantung pada perkembangan inflasi. Dengan demikian, pelemahan data ketenagakerjaan belum cukup untuk menghilangkan kekhawatiran bahwa The Fed masih harus mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Pandangan tersebut juga disampaikan Kenneth Broux dari Societe Generale, yang menilai bahwa pelemahan data payrolls memang memperkuat penurunan ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed dalam waktu dekat. Namun, kondisi tersebut belum dianggap sebagai perubahan besar terhadap kecenderungan hawkish bank sentral AS. Inflasi tetap menjadi perhatian utama karena tekanan harga yang persisten dapat membuat The Fed lebih berhati-hati dalam menentukan waktu maupun besaran penyesuaian suku bunga berikutnya. Situasi ini pada akhirnya dapat menjaga imbal hasil obligasi AS tetap tinggi dan memberikan dukungan terhadap USD.

Dari sisi data ekonomi, aktivitas sektor jasa AS juga menunjukkan sedikit perlambatan. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa ISM untuk September tercatat di level 54,9, lebih rendah dibandingkan perkiraan 55,1 dan angka sebelumnya 55,4. Meskipun masih berada di atas level 50 yang menunjukkan ekspansi, penurunan tersebut mengindikasikan bahwa pertumbuhan sektor jasa mulai kehilangan momentum. Data ini berpotensi menjadi pertimbangan tambahan bagi The Fed dalam mengevaluasi kondisi ekonomi dan menentukan arah kebijakan moneter berikutnya.

Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada Risalah Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September yang dijadwalkan dirilis pada hari Rabu. Investor akan mencermati pandangan para pejabat The Fed mengenai inflasi, pasar tenaga kerja, serta prospek suku bunga untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya. Secara keseluruhan, USD masih memiliki bias positif selama imbal hasil obligasi AS tetap tinggi dan kekhawatiran terhadap inflasi belum mereda. Namun, apabila Risalah FOMC menunjukkan sikap yang lebih dovish dari perkiraan, penguatan USD berpotensi kehilangan momentum dan membuka ruang bagi koreksi.


sumber : fxstreet