Harga Minyak Tertekan Pasokan, Risiko Timur Tengah Menahan Penurunan

West Texas Intermediate (WTI), patokan harga minyak mentah Amerika Serikat, diperdagangkan turun di sekitar US$88,88 per barel di sesi awal Eropa hari Selasa. Harga WTI masih menghadapi tekanan jual seiring meningkatnya pasokan minyak mentah dari Timur Tengah dan keputusan negara-negara Group of Seven (G7) untuk melepas cadangan minyak darurat. Kondisi tersebut meredakan kekhawatiran terhadap kelangkaan pasokan dalam jangka pendek dan menjadi faktor utama yang membatasi potensi kenaikan harga minyak.

Pada hari Jumat, negara-negara G7 sepakat untuk melepaskan sekitar 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat serta berkomitmen untuk tidak memberlakukan pembatasan ekspor energi. Langkah tersebut dilakukan setelah adanya tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Tambahan pasokan ini berpotensi semakin meningkatkan ketersediaan minyak di pasar global, terutama karena ekspor minyak mentah Timur Tengah juga mulai kembali meningkat. Data menunjukkan bahwa ekspor minyak mentah kawasan tersebut berada di atas level sebelum perang selama empat dari tujuh hari pada pekan terakhir September 2026.

Dari sisi kebijakan energi AS, Trump pada hari Senin juga menandatangani perintah eksekutif yang melonggarkan pembatasan penggunaan jenis diesel bebas pajak. Kebijakan tersebut memungkinkan penggunaan diesel merah bebas pajak secara lebih luas dan menjadi bagian dari upaya pemerintah AS untuk menekan biaya bahan bakar menjelang pemilu paruh waktu November 2026. Menurut analis KCM Trade, kombinasi pelepasan cadangan strategis G7 dan pemulihan ekspor minyak Arab Saudi telah mengurangi sebagian kekhawatiran pasokan sehingga memberikan tekanan terhadap harga WTI. Namun, risiko kerusakan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk masih menjadi faktor yang dapat membatasi penurunan harga.

Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada laporan persediaan minyak mentah dari American Petroleum Institute (API) yang dijadwalkan dirilis pada hari Selasa. Penurunan persediaan yang lebih besar dari perkiraan dapat mengindikasikan permintaan yang kuat dan berpotensi memberikan dorongan bagi WTI. Sebaliknya, peningkatan stok yang lebih besar dari ekspektasi akan menunjukkan lemahnya permintaan atau kelebihan pasokan sehingga dapat memperkuat tekanan bearish. Di sisi lain, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah juga berpotensi memberikan dukungan bagi harga minyak setelah kelompok Houthi Yaman mengklaim melakukan sejumlah serangan terhadap bandara, fasilitas minyak, dan lokasi militer di Arab Saudi.

Risiko geopolitik bahkan dapat menjadi faktor yang lebih dominan apabila konflik di Timur Tengah memasuki tahap eskalasi baru. Analis Rabobank memperingatkan bahwa meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi, meskipun aliran minyak melalui Selat Hormuz sejauh ini masih berlangsung. Kerentanan jalur distribusi energi tersebut membuat pasar tidak dapat sepenuhnya mengabaikan risiko gangguan pasokan secara tiba-tiba. Dengan demikian, WTI saat ini menghadapi dua kekuatan yang berlawanan: peningkatan pasokan menekan harga, sementara risiko geopolitik memberikan penahan terhadap penurunan. Dalam jangka pendek, arah WTI akan sangat bergantung pada data persediaan AS, perkembangan ekspor Timur Tengah, serta eskalasi konflik di kawasan.


sumber : fxstreet