Harga Minyak Naik, Ketidakpastian AS-Iran Kembali Tekan Pasokan
Harga minyak mentah kembali menguat pada hari Selasa, melanjutkan kenaikan pada hari sebelumnya. Minimnya kemajuan dalam diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran membuat kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah tetap menjadi perhatian pasar, meskipun ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut mulai menunjukkan pemulihan.
Pada pukul 13.30 WIB, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman November naik 1,3% menjadi US$106,60 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,1% menjadi US$93,60 per barel. Pada hari sebelumnya, Brent sempat mendekati US$109 per barel sebelum memangkas kenaikan dan ditutup di sekitar US$105 per barel.
Mediator Qatar dijadwalkan menggelar pembicaraan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dan pejabat Amerika Serikat. Menurut laporan Reuters, pembahasan berfokus pada proposal tujuh hari yang telah diamendemen dan diajukan Iran pada pekan lalu. Namun, kedua pihak dilaporkan masih pesimistis dapat mencapai kesepakatan sebelum pemilihan umum paruh waktu AS. Ketidakpastian diplomatik tersebut membuat pasar minyak tetap mewaspadai risiko gangguan pasokan.
Di sisi lain, data awal Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah dari produsen utama Timur Tengah meningkat menjadi 12,8 juta barel per hari pada September, level tertinggi sejak Februari. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menjadi kontributor utama kenaikan tersebut. Ekspor minyak Arab Saudi melalui Selat Hormuz juga diperkirakan meningkat tajam setelah Riyadh kembali mengalihkan pengiriman dari pelabuhan Laut Merah Yanbu menyusul kerusakan pada jaringan pipa East-West. Setelah pipa tersebut diperbaiki, ekspor dari Yanbu kembali berjalan, dengan kapasitas pipa mencapai 7 juta barel per hari dan sekitar 3,5 juta barel per hari mengalir setelah pengoperasian kembali.
Meski arus ekspor mulai pulih, biaya dan kesulitan transportasi minyak di kawasan Teluk masih menjaga kekhawatiran pasar. Gangguan tersebut juga memperketat pasar produk olahan, terutama diesel, yang harganya telah mencapai rekor. Reuters melaporkan Gedung Putih mempertimbangkan perubahan regulasi yang dapat memperluas penjualan diesel berwarna merah, sementara spekulasi mengenai kemungkinan pembatasan ekspor diesel AS turut memperlebar selisih harga antara Brent dan WTI.
sumber : investing
