Dolar AS Bertahan Dekat Level Tertinggi Dua Bulan, Pasar Menanti Data Inflasi
Dolar AS bergerak defensif pada perdagangan hari Senin, tetapi masih bertahan di dekat level tertinggi dalam dua bulan. Kebuntuan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus mendorong kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi, sehingga meningkatkan kekhawatiran inflasi sekaligus mendukung ekspektasi kebijakan moneter yang lebih hawkish dari Federal Reserve (The Fed). Indeks Dolar AS (DXY) naik ke 100,89 dan masih berada di jalur kenaikan sekitar 1,7% sepanjang September 2026, yang akan menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Juni 2026.
Euro melemah tipis ke US$1,1386 dan masih berada di dekat level terendah dua bulan terhadap Dolar AS, dengan penurunan sekitar 2% sepanjang September 2026. Pound Sterling relatif stabil di US$1,3247, mendekati level terendah tiga bulan setelah Gubernur Bank of England (BoE) Andrew Bailey kembali memperingatkan mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga. Sementara itu, Dolar Australia berada di US$0,70125.
Harga minyak melonjak pada hari Senin, setelah Presiden AS Donald Trump menolak kesepakatan damai dengan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. Risiko terhadap pasokan energi, ditambah fundamental ekonomi AS yang masih kuat, meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mendorong pelaku pasar memperkirakan sikap The Fed yang lebih hawkish. Kenaikan imbal hasil Treasury AS tenor panjang yang terus berlanjut juga memberikan dukungan terhadap Dolar AS.
Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada rangkaian data ekonomi AS sepanjang pekan ini. Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) akan dirilis pada hari Rabu, disusul laporan Non-Farm Payrolls (NFP) pada hari Jumat. Kedua data tersebut diperkirakan memberikan petunjuk penting mengenai arah kebijakan The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan probabilitas sekitar 65% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed berikutnya di akhir Oktober 2026. Data penting lainnya mencakup PMI China pada hari Rabu dan inflasi zona euro pada hari Jumat.
Di Jepang, Yen melemah 0,3% menjadi sekitar 157,70 per Dolar AS setelah memangkas sebagian penguatan pada hari Jumat. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent kembali menegaskan niat kedua negara untuk memperkuat kerja sama dalam menghadapi pelemahan Yen. Data Jepang juga menunjukkan inflasi sektor jasa meningkat pada Agustus dengan laju tahunan tercepat dalam lebih dari dua tahun, memperkuat tekanan harga dan mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) yang lebih cepat. Sementara itu, Reserve Bank of Australia (RBA) diperkirakan menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 4,60% pada hari Selasa.
sumber : investing
