PMI Zona Euro Menguat, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga ECB Meningkat

Aktivitas bisnis Zona Euro menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan pada September 2026. PMI Manufaktur HCOB pendahuluan tercatat stabil di level 52,7, sedikit di atas ekspektasi 52,6. Sementara itu, PMI Gabungan meningkat signifikan menjadi 53,1 dari 52,0 pada Agustus, melampaui proyeksi ekonom sebesar 51,5. Data ini mencerminkan penguatan aktivitas ekonomi kawasan di tengah tantangan geopolitik dan tekanan harga energi.

Sektor jasa menjadi pendorong utama pertumbuhan dengan PMI Jasa yang melonjak ke 53,0, dibandingkan estimasi 51,7 dan capaian sebelumnya 51,6. Peningkatan tersebut menunjukkan ekspansi aktivitas bisnis yang lebih kuat dari perkiraan. Perkembangan ini berpotensi memperkuat optimisme terhadap prospek perekonomian Zona Euro, meskipun tekanan inflasi masih menjadi perhatian.

Kepala Ekonom Bisnis S&P Global Market Intelligence, Chris Williamson, menyampaikan bahwa peningkatan harga energi akibat konflik yang berlangsung di Timur Tengah berpotensi kembali mendorong tekanan inflasi pada September. Namun, ketahanan pertumbuhan ekonomi menjadi perkembangan yang lebih menggembirakan. Berdasarkan survei PMI pendahuluan, Produk Domestik Bruto (PDB) Zona Euro diperkirakan tumbuh pada laju kuartalan sebesar 0,4%, sementara peningkatan pesanan baru di sektor manufaktur dan jasa mengindikasikan momentum pertumbuhan yang berlanjut hingga kuartal keempat.

Dari sisi kebijakan moneter, ketahanan ekonomi di tengah tekanan geopolitik dan kenaikan harga dapat memengaruhi pertimbangan Bank Sentral Eropa (ECB). Williamson menilai kondisi tersebut berpotensi mendorong ECB mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Ia juga menyebut bahwa kenaikan suku bunga pada Oktober menjadi salah satu skenario yang patut diperhatikan apabila tekanan inflasi dan pertumbuhan ekonomi tetap bertahan.

Perkembangan PMI Zona Euro selanjutnya akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam menilai arah kebijakan ECB dan prospek mata uang euro. Penguatan aktivitas ekonomi dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga, sementara risiko inflasi akibat kenaikan harga energi tetap menjadi faktor penting. Kombinasi kedua aspek tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas EURUSD seiring pasar menyesuaikan posisi terhadap prospek ekonomi dan kebijakan moneter kawasan.


sumber : fxstreet