Emas Tertekan Penguatan USD, Pasar Menanti Perkembangan The Fed dan Geopolitik
Harga emas (XAUUSD) melanjutkan penurunan secara bertahap sepanjang paruh pertama sesi Eropa pada perdagangan hari Rabu, menghapus sebagian pemulihan pada hari sebelumnya dari level di bawah US$4.300 per troy ons. Tekanan terhadap logam mulia terutama berasal dari penguatan Dolar AS (USD) yang masih solid, didukung ekspektasi kebijakan moneter hawkish Federal Reserve (The Fed). Kondisi ini mendorong arus investasi menjauh dari emas yang tidak memberikan imbal hasil.
The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun pada akhir pertemuan kebijakan September dan mengisyaratkan kemungkinan satu kenaikan tambahan hingga akhir tahun. Sejumlah pejabat The Fed, termasuk Alberto Musalem, Austan Goolsbee, Susan Collins, dan Tom Barkin, turut membuka peluang pengetatan kebijakan lebih lanjut guna mengendalikan inflasi. Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 90%. Ekspektasi tersebut, ditambah ketidakpastian geopolitik, terus menopang permintaan terhadap USD sebagai aset safe haven.
Ketegangan di Timur Tengah juga menjadi perhatian pasar. Dalam pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA), Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa dirinya menghadapi keputusan penting antara mencapai kesepakatan dengan Iran atau mengambil tindakan lebih keras apabila konflik tidak terselesaikan. Di sisi lain, sanksi AS yang lebih ketat terhadap sektor penerbangan Iran mulai berlaku pada Rabu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga bertemu dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff untuk membahas kembali persyaratan Teheran terkait pembukaan Selat Hormuz. Meskipun Trump menyebut pembicaraan berlangsung baik, belum terdapat rincian lebih lanjut mengenai hasil negosiasi tersebut.
Di tengah tekanan dari penguatan USD, imbal hasil obligasi Treasury AS masih berada di bawah level tertinggi multi-tahun. Penurunan harga minyak mentah belakangan ini turut membantu meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi, sehingga memberikan sedikit ruang bagi harga emas untuk bertahan dalam kisaran perdagangan mingguan. Namun, ketidakpastian arah kebijakan moneter dan perkembangan geopolitik tetap menjadi faktor penting yang membatasi pergerakan logam mulia.
Selanjutnya, pelaku pasar akan mencermati rilis awal Purchasing Managers’ Index (PMI) global untuk menilai kondisi perekonomian negara-negara maju. Pidato sejumlah anggota FOMC dan perkembangan terbaru terkait konflik geopolitik juga berpotensi memengaruhi permintaan USD serta menciptakan peluang perdagangan jangka pendek pada emas. Selain itu, pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada hari Kamis menjadi agenda penting yang dapat memengaruhi sentimen pasar serta arah pergerakan harga emas berikutnya.
sumber : fxstreet
