WTI Tertekan di Tengah Harapan Damai AS–Iran

Harga minyak mentah mempertahankan tren negatif pada perdagangan hari Rabu, dengan West Texas Intermediate (WTI) bergerak stabil di sekitar US$89,00 per barel. Level tersebut merupakan yang terendah dalam hampir tiga pekan dan sekitar 13% di bawah level tertinggi yang dicapai pada pekan sebelumnya. Tekanan terhadap harga minyak terutama dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, termasuk perbaikan jalur pipa minyak Arab Saudi serta munculnya harapan akan dimulainya kembali pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Sentimen pasar turut dipengaruhi oleh kabar bahwa Arab Saudi telah kembali mengoperasikan jalur pipa East-West yang mengalirkan sekitar 4 juta barel minyak mentah per hari menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Jalur tersebut menjadi alternatif penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz yang saat ini menghadapi gangguan. Selain itu, Menteri Minyak Irak Basim Mohammed menyampaikan bahwa ekspor minyak negaranya telah meningkat menjadi sekitar 3 juta barel per hari, dengan ekspor melalui Turki diperkirakan meningkat menjadi lebih dari 600 ribu barel per hari.

Perhatian pasar berikutnya tertuju pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Presiden AS Donald Trump menyatakan keterbukaan untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam agenda tersebut. Pernyataan ini meningkatkan harapan bahwa Washington dan Teheran dapat kembali membuka ruang negosiasi untuk mengakhiri konflik. Jika proses diplomasi menghasilkan kesepakatan yang memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz, potensi kelancaran distribusi minyak global dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga WTI.

Iran sebelumnya menawarkan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari dengan syarat Amerika Serikat mencabut blokadenya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Hingga saat ini, tawaran tersebut belum memperoleh tanggapan resmi dari Washington. Di sisi lain, Utusan Khusus AS Steve Witkoff mengonfirmasi adanya negosiasi yang berlangsung di sela-sela KTT PBB, meskipun belum terdapat perkembangan signifikan yang menunjukkan tercapainya kesepakatan.

Sementara itu, Presiden Trump pada hari Selasa kembali memberikan pernyataan yang berpotensi meningkatkan ketidakpastian geopolitik dengan memperingatkan bahwa Iran dapat menghadapi konsekuensi serius apabila kesepakatan tidak tercapai. Namun, pada saat yang sama, Trump menyebut bahwa negosiator AS telah melakukan pertemuan yang dinilai produktif dengan pejabat Iran dan melihat adanya momentum menuju kesepakatan. Perbedaan antara pernyataan keras dan sinyal diplomasi tersebut membuat arah harga minyak tetap sensitif terhadap setiap perkembangan terbaru terkait hubungan AS–Iran dan kondisi Selat Hormuz.


sumber : fxstreet