Sentimen Risiko Menguat, USD Tertekan Jelang Data AS

Sentimen risiko mendominasi pasar keuangan pada awal perdagangan Rabu seiring meningkatnya optimisme investor terhadap peluang penyelesaian diplomatik konflik di Timur Tengah. Fokus pasar hari ini tertuju pada rilis data ekonomi Amerika Serikat, termasuk laporan ketenagakerjaan sektor swasta dan Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa ISM bulan Juli yang dapat memberikan petunjuk terhadap arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Harga minyak mentah mengalami tekanan tajam pada Selasa setelah muncul kabar mengenai kemungkinan pembukaan kembali aktivitas di Selat Hormuz. Minyak West Texas Intermediate (WTI) turun hampir 6% sebelum stabil di sekitar US$74 per barel. Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali atau tindakan militer terhadap Iran dapat kembali dipertimbangkan.

Pergerakan positif juga terlihat di pasar saham global, dengan indeks utama Wall Street mencatat penguatan signifikan. Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan S&P 500 berhasil mencapai rekor tertinggi baru, sementara Indeks Dolar AS (USD) melemah tipis dan masih bergerak di bawah level 100. Di pasar valuta asing, USDJPY bergerak konsolidasi di bawah 158,00, EURUSD bertahan di atas 1,1530, dan GBPUSD bergerak stabil di sekitar 1,3450.

Meskipun sentimen pasar membaik, pejabat Federal Reserve tetap mempertahankan pandangan hawkish. Presiden The Fed Kansas City Jeff Schmid menilai kebijakan moneter saat ini belum cukup ketat untuk memastikan inflasi kembali menuju target 2%. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa peluang suku bunga tetap tinggi dalam waktu lebih lama masih menjadi faktor yang dapat membatasi pelemahan Dolar AS.

Sementara itu, harga emas (XAUUSD) melanjutkan penguatan dan naik lebih dari 2% ke sekitar US$4.170 per troy ounce. Pelemahan harga energi membantu meredakan kekhawatiran inflasi dan memberikan dukungan bagi emas, meskipun ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi masih menjadi tantangan bagi kenaikan lebih lanjut. Di sisi lain, Dolar Selandia Baru (NZD) melemah setelah data menunjukkan tingkat pengangguran Selandia Baru meningkat menjadi 5,6% pada kuartal kedua, melebihi perkiraan pasar.


sumber : fxstreet