Harga Minyak Tertekan, Pasar Menanti Data ADP AS dan Sinyal Baru The Fed

Harga minyak dunia kembali melemah tajam untuk hari kedua berturut-turut setelah muncul laporan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz berpotensi segera diumumkan. Optimisme terhadap membaiknya jalur distribusi energi global mengurangi kekhawatiran pasar mengenai gangguan pasokan, sehingga mendorong aksi jual di pasar minyak.

Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY) sedikit melemah setelah data JOLTS Job Openings menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di Amerika Serikat turun lebih besar dari perkiraan. Data tersebut mengindikasikan perlambatan pasar tenaga kerja dan meningkatkan ekspektasi bahwa tekanan terhadap kebijakan moneter The Fed dapat mulai mereda, meskipun pejabat Federal Reserve masih menegaskan bahwa inflasi tetap berada di atas target sehingga kebijakan suku bunga perlu dipertahankan pada level yang cukup ketat.

Pelemahan dolar mendorong penguatan beberapa mata uang utama. EURUSD, GBPUSD, dan AUDUSD mencatat kenaikan, dengan Dolar Australia menjadi mata uang berkinerja terbaik berkat membaiknya sentimen risiko dan prospek biaya energi yang lebih rendah. Sebaliknya, USDJPY menguat karena Yen Jepang melemah seiring berkurangnya permintaan terhadap aset safe haven.

Di pasar komoditas, harga WTI turun sekitar 5,3% ke kisaran US$75,09 per barel, sementara emas naik ke sekitar US$4.106,13 per troy ounce karena didukung pelemahan Dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi. Perak juga mencatat kenaikan yang lebih kuat berkat prospek permintaan industri yang membaik.

Perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada serangkaian data ekonomi penting, termasuk PMI Jasa Eropa, Indeks Harga Produsen (PPI) Zona Euro, serta data ADP Employment Change dan ISM Services PMI Amerika Serikat. Rangkaian data tersebut akan menjadi indikator penting bagi pasar dalam menilai kondisi ekonomi global sekaligus membentuk ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve menjelang rilis Nonfarm Payrolls (NFP) pada akhir pekan.


sumber : fxstreet