Harga Minyak Melonjak, Didorong Konflik Timur Tengah dan Turunnya Persediaan Minyak AS
Harga minyak mentah melanjutkan penguatannya pada perdagangan Kamis. Dalam dua hari terakhir, harga West Texas Intermediate (WTI) telah melonjak sekitar 7% dan diperdagangkan di atas US$84 per barel, setelah sempat menyentuh level terendah US$77,77 pada awal pekan. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Sentimen pasar berubah setelah militer Amerika Serikat mengumumkan gelombang baru serangan terhadap Iran pada Rabu. Langkah tersebut secara efektif mengakhiri gencatan senjata yang telah berlangsung selama tiga hari dan memupus harapan pasar terhadap penyelesaian diplomatik yang sebelumnya sempat menekan harga minyak hingga sekitar US$12 per barel.
Eskalasi terbaru terjadi setelah Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan memberikan respons tegas menyusul serangan pesawat nirawak terhadap sebuah kapal tanker penyimpanan gas milik AS yang sedang berlabuh di Pelabuhan Damietta, Mesir. Sebelumnya, Iran juga dilaporkan meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS di Yordania, sementara Amerika Serikat bersama Arab Saudi melakukan serangan terkoordinasi terhadap kelompok milisi Syiah yang didukung Iran di Irak.
Selain meningkatnya ketegangan geopolitik, harga minyak juga mendapat dukungan dari penurunan tajam persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Data Badan Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA) menunjukkan bahwa persediaan minyak komersial AS turun 7,167 juta barel pada pekan yang berakhir 24 Juli. Penurunan tersebut jauh lebih besar dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan sekitar 2,5 juta barel, sekaligus menghapus sebagian besar kenaikan 2,01 juta barel yang tercatat pada pekan sebelumnya.
Penurunan stok minyak yang lebih besar dari perkiraan memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi pengetatan pasokan global, sehingga semakin mendorong kenaikan harga minyak mentah.
Analis TD Securities menilai bahwa kembalinya konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah jeda singkat, ditambah ancaman berkelanjutan dari kelompok Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi, telah membatasi arus pelayaran energi melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb. Kedua jalur tersebut merupakan rute strategis bagi distribusi minyak dunia.
Menurut TD Securities, pasar kini mulai mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan tercapainya perdamaian dalam waktu dekat, terutama karena Iran tetap bersikeras mempertahankan pengaruhnya atas Selat Hormuz. Gangguan yang berlanjut terhadap arus distribusi minyak dinilai berpotensi memperketat pasokan energi global dan menjadi faktor yang dapat mendorong harga minyak mentah naik lebih lanjut dalam jangka pendek.
Dengan kombinasi meningkatnya risiko geopolitik, terbatasnya arus distribusi energi, serta penurunan persediaan minyak Amerika Serikat, prospek harga minyak masih cenderung positif. Namun, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah karena setiap eskalasi maupun upaya diplomatik berpotensi memicu volatilitas yang tinggi di pasar energi.
Sumber: FXStreet
