Harga Emas Melemah Setelah Gagal Tembus US$4.100, Dolar AS Kembali Menguat

Harga Emas (XAUUSD) melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Kamis setelah kembali gagal menembus level psikologis US$4.100 per troy ounce. Logam mulia tersebut juga bergerak menjauh dari level tertinggi dalam satu pekan yang dicapai pada perdagangan sebelumnya.

Tekanan terhadap emas terutama dipicu oleh kembali menguatnya Dolar Amerika Serikat (USD) setelah sempat melemah menyusul hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu. Selain itu, meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran membuat peluang kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) tetap terbuka, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

Sesuai dengan ekspektasi pasar, Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada akhir rapat kebijakan dua hari. Namun, bank sentral AS tidak memberikan sinyal yang lebih agresif mengenai arah kebijakan moneter, sehingga sempat menekan nilai tukar dolar AS dan mendorong harga emas naik ke level tertinggi dalam sepekan.

Meski demikian, keputusan tersebut diwarnai oleh tiga suara berbeda (dissenting votes) dari pejabat The Fed yang menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Kondisi ini membuat pasar tetap memperkirakan bahwa The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga setidaknya satu kali lagi sebelum akhir tahun, terutama jika tekanan inflasi kembali meningkat akibat lonjakan harga energi.

Analis TD Securities menilai bahwa pasar logam mulia masih berada dalam tekanan karena ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang cenderung hawkish. Menurut mereka, penguatan harga energi berpotensi semakin memperkuat pandangan bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Kombinasi antara prospek kebijakan moneter yang ketat dan kenaikan harga energi dinilai masih menjadi faktor utama yang membatasi ruang kenaikan harga emas.

Di sisi lain, konflik geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan pasar energi. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat, terutama di sekitar Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, dua jalur pelayaran strategis bagi distribusi minyak dunia.

Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan balasan terhadap Iran setelah pasukan AS di Timur Tengah menjadi sasaran serangan rudal pada Selasa. Selain itu, operasi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi terhadap kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Iran di Irak semakin meningkatkan risiko meluasnya konflik di kawasan.

Di saat yang sama, muncul laporan bahwa kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman tengah mempertimbangkan penerapan biaya bagi kapal-kapal komersial yang melintasi wilayah selatan Laut Merah. Langkah tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi global.

Kondisi tersebut memperbesar risiko terganggunya pasokan minyak melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, sehingga mendorong lonjakan harga minyak mentah. Kenaikan harga energi kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi global dan memperkuat alasan bagi The Fed untuk tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Selanjutnya, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, yaitu Produk Domestik Bruto (PDB) Pendahuluan Kuartal II serta Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE), yang merupakan indikator inflasi pilihan The Fed. Hasil kedua data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter The Fed ke depan, sekaligus berpotensi menentukan pergerakan Dolar AS dan harga emas dalam jangka pendek.


Sumber: FXStreet