Emas Menguat Tipis, Fokus Pasar Beralih ke Keputusan Suku Bunga The Fed

Harga emas dunia (XAU/USD) dibuka dengan gap bullish pada awal perdagangan pekan ini. Namun, penguatan tersebut masih terbatas karena harga belum mampu menembus level psikologis US$4.100 per troy ounce. Pelaku pasar cenderung menahan diri menjelang dimulainya rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Selasa, yang hasilnya akan diumumkan pada Rabu. Hingga pukul 13.30 WIB pada Senin, XAUUSD tercatat naik 1,03% ke level US$4.095,53 per troy ounce.

Kenaikan harga emas didukung oleh melemahnya dolar Amerika Serikat (USD) setelah harga minyak mentah anjlok sekitar 5%. Penurunan harga minyak dipicu oleh kembali munculnya harapan akan tercapainya solusi diplomatik untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung selama lima bulan. Meredanya kekhawatiran terhadap inflasi akibat turunnya harga energi membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) ikut berkurang. Kondisi tersebut memberikan tekanan pada dolar AS sekaligus meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

Optimisme pasar semakin menguat setelah Amerika Serikat menghentikan sementara kampanye serangan udaranya terhadap Iran pada Jumat malam, setelah sebelumnya berlangsung selama 13 malam berturut-turut. Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, menyatakan bahwa Presiden Donald Trump ingin memberikan kesempatan bagi proses negosiasi meskipun militer AS tetap berada dalam kondisi siaga penuh. Sebagai balasan, seorang pejabat senior Iran menyampaikan kepada Reuters bahwa Teheran juga akan menghentikan serangan selama AS melakukan hal yang sama. Perkembangan tersebut memunculkan optimisme bahwa ketegangan kedua negara dapat diredakan melalui jalur diplomatik, sehingga mengurangi permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

Di sisi lain, pelemahan dolar masih tertahan oleh sikap hati-hati investor yang menunggu arah kebijakan moneter The Fed. Turunnya harga minyak memang telah mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury), namun pelaku pasar belum berani mengambil posisi jual (bearish) secara agresif terhadap dolar sebelum memperoleh kepastian dari hasil rapat FOMC. Oleh karena itu, perhatian investor kini sepenuhnya tertuju pada pernyataan resmi bank sentral AS terkait prospek suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.

Sementara itu, risiko geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang dapat membatasi kenaikan harga emas. Pasar masih meragukan keberlanjutan gencatan serangan antara AS dan Iran. Selain itu, aktivitas pelayaran di Selat Bab el-Mandeb dilaporkan menurun pada 26 Juli 2026 setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang fasilitas minyak Arab Saudi di sepanjang pesisir Laut Merah. Kondisi ini kembali memunculkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi minyak global melalui Selat Hormuz, sehingga dapat mendorong kenaikan harga energi dan membatasi pelemahan dolar AS. Dengan latar belakang tersebut, investor disarankan tetap berhati-hati karena pergerakan harga emas masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik serta keputusan kebijakan moneter The Fed.

Sumber: FXStreet.