Harga Minyak Dibuka Gap Down di Tengah Harapan De-Eskalasi Konflik AS-Iran

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi acuan minyak mentah Amerika Serikat, dibuka dengan gap bearish pada awal perdagangan pekan ini dan melanjutkan pelemahannya setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 8 Juni 2026, yakni di kisaran US$93,47 per barel pada Kamis lalu. Hingga pukul 13.20 WIB pada Senin, harga WTI tercatat turun 7,16% ke level US$83,71 per barel.

Penurunan harga minyak dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat menghentikan sementara kampanye serangan udaranya terhadap target-target Iran yang telah berlangsung selama 13 malam berturut-turut. Sebagai respons, Iran juga menangguhkan serangan balasannya terhadap sekutu-sekutu Washington di kawasan Timur Tengah. Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, menyatakan bahwa meskipun militer AS tetap berada dalam kondisi siaga penuh, Presiden Donald Trump ingin memberikan ruang bagi upaya diplomasi. Perkembangan ini meningkatkan optimisme bahwa konflik antara AS dan Iran yang telah berlangsung selama lima bulan dapat diselesaikan melalui jalur diplomatik, sehingga mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap pasokan minyak global masih membatasi potensi penurunan harga yang lebih dalam. Pada 26 Juli 2026, aktivitas pelayaran di Selat Bab el-Mandeb dilaporkan menurun setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang fasilitas minyak Arab Saudi di sepanjang pesisir Laut Merah. Kondisi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran akan terganggunya distribusi minyak dunia, terutama jika arus pelayaran melalui Selat Hormuz ikut terdampak. Situasi ini membuat pelaku pasar enggan mengambil posisi jual (bearish) secara agresif karena risiko gangguan pasokan masih cukup tinggi.

Selain itu, para investor juga cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu perkembangan terbaru terkait konflik di Timur Tengah. Pasar masih memantau apakah ketegangan geopolitik benar-benar mulai mereda atau justru kembali meningkat. Selama ketidakpastian tersebut masih berlangsung, harga minyak berpotensi tetap bergerak fluktuatif karena dipengaruhi oleh sentimen geopolitik maupun dinamika pasokan global.

Analis RaboResearch Global Economics & Markets dari Rabobank menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak yang terjadi sebelumnya didorong oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global. Mereka menilai bahwa kenaikan harga Brent, WTI, dan berbagai produk olahan minyak dipicu oleh gangguan di Selat Hormuz, meningkatnya intensitas konflik Rusia-Ukraina, terganggunya operasional terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC), serta ketatnya pasokan diesel di pasar global. Menurut Rabobank, kombinasi berbagai risiko geopolitik dan hambatan logistik tersebut kembali memicu kekhawatiran terhadap ketahanan pasokan energi dunia dan menjadi faktor utama yang mendukung volatilitas harga minyak.

Sumber: FXStreet.