WTI Tertekan 2%, Gangguan Pasokan Saudi Mulai Mereda
Harga minyak mentah kembali mengalami tekanan pada perdagangan hari Jumat dengan penurunan sekitar 2%, memperpanjang pelemahan untuk hari ketiga berturut-turut. Brent turun sekitar 2,2% ke US$102,53 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,17% ke US$99,95 per barel. Brent juga berada di jalur mencatat penurunan mingguan pertama dalam tiga pekan, sekitar 2%. Tekanan terhadap harga minyak terutama muncul karena kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari Arab Saudi mulai mereda, meskipun risiko meluasnya konflik di Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak mendekati level tertinggi dalam hampir empat bulan setelah aktivitas pengiriman minyak Saudi mengalami gangguan. Muatan minyak dari pusat ekspor Yanbu di Laut Merah dilaporkan dihentikan, sementara Riyadh membatalkan sebagian pengiriman ke Eropa setelah jalur pipa East-West mengalami kerusakan akibat serangan pekan lalu. Namun, sentimen pasar mulai berubah setelah muncul laporan bahwa Arab Saudi berupaya mengembalikan sekitar separuh kapasitas pipa tersebut dalam beberapa hari. Riyadh juga dilaporkan menawarkan lebih banyak kargo minyak kepada penyuling Asia melalui mekanisme ship-to-ship transfer di sekitar Pelabuhan Sohar, Oman.
Upaya pemulihan kapasitas ekspor tersebut mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dalam jangka pendek. Priyanka Sachdeva dari Phillip Nova menilai langkah-langkah terbaru untuk memulihkan kapasitas ekspor Saudi telah meredakan sebagian kecemasan pasar mengenai pasokan. Meski demikian, estimasi mengenai waktu yang dibutuhkan untuk membuka kembali pipa dan mengembalikan arus minyak ke kondisi normal masih bervariasi. Selama belum terdapat bukti kuat mengenai peningkatan pasokan secara berkelanjutan, harga minyak masih berpotensi bertahan di atas level US$100 per barel.
Faktor geopolitik juga masih menjadi penahan bagi penurunan harga yang lebih dalam. Aktivitas transportasi minyak di kawasan tetap menghadapi risiko setelah Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyatakan sebuah kapal tanker berbendera Togo terkena serangan ketika mencoba melakukan “lintasan ilegal” di Selat Hormuz. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa risiko terhadap jalur perdagangan energi strategis masih tinggi. Apabila lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz kembali meningkat secara konsisten dan arus fisik minyak Saudi mulai normal, premi risiko geopolitik berpotensi berkurang lebih lanjut dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak.
Di sisi lain, belum adanya kemajuan signifikan dalam hubungan AS-Iran membuat ketidakpastian tetap tinggi. Kedua negara belum kembali melakukan pembicaraan damai sejak kesepakatan sementara pada Juni lalu runtuh dalam beberapa pekan. Konflik tersebut juga akan menjadi salah satu isu yang dibahas dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan depan. Secara keseluruhan, WTI menghadapi tekanan bearish jangka pendek akibat membaiknya prospek pasokan Saudi, tetapi level US$100 masih menjadi area penting karena risiko geopolitik dan ketidakpastian lalu lintas minyak di Selat Hormuz dapat membatasi penurunan lebih lanjut.
sumber : fxstreet
