WTI Terkoreksi Aksi Ambil Untung, Namun Risiko Geopolitik Masih Menopang Minyak
West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah AS, diperdagangkan di US$100,9 pada awal sesi Eropa Jumat setelah mengalami tekanan jual akibat aksi profit-taking. Setelah mencatat kenaikan lebih dari 10,25% sepanjang pekan ini, yang menjadi penguatan mingguan terbesar sejak Mei 2026, pasar mulai melakukan aksi ambil untung di tengah kondisi teknis yang menunjukkan jenuh beli. Selain itu, investor cenderung berhati-hati menjelang rilis data inflasi utama Amerika Serikat yang dapat memengaruhi prospek kebijakan moneter dan sentimen pasar secara keseluruhan.
Tekanan terhadap WTI juga diperkuat oleh data persediaan minyak mentah AS yang menunjukkan penurunan lebih kecil dari perkiraan. Menurut Energy Information Administration (EIA), stok minyak mentah AS untuk pekan yang berakhir 4 September hanya turun 391.000 barel, dibandingkan penurunan 4,45 juta barel pada pekan sebelumnya dan ekspektasi pasar sebesar 1,6 juta barel. Penurunan yang lebih kecil dari perkiraan tersebut menunjukkan bahwa tekanan dari sisi permintaan atau kondisi pasokan domestik belum cukup kuat untuk mempertahankan reli harga secara agresif, sehingga memberikan alasan bagi trader untuk melakukan profit-taking.
Namun, risiko geopolitik masih menjadi faktor utama yang menjaga harga minyak tetap tinggi. Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa dirinya tidak sedang mencari kesepakatan dengan Iran dan tidak memperkirakan harga minyak turun hingga setelah pemilihan sela November. Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa ketegangan AS-Iran dapat berlangsung lebih lama. Di sisi lain, meningkatnya serangan terhadap jalur pelayaran utama di Timur Tengah menambah risiko gangguan pasokan minyak, termasuk laporan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyerang kapal nirawak AS di Selat Hormuz.
Risiko pasokan juga meningkat setelah kelompok Houthi Yaman merebut kota Mocha di kawasan Laut Merah, yang memperluas pengaruhnya di sekitar Bab al-Mandeb, salah satu jalur perdagangan strategis dunia. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan terhadap arus perdagangan dan pengiriman energi melalui kawasan Timur Tengah. TD Securities menilai reli minyak masih didukung oleh ketegangan geopolitik yang persisten dan belum terlihatnya penyelesaian konflik. Eskalasi lanjutan serta kecenderungan menggunakan serangan terbatas dan tekanan ekonomi dibandingkan perundingan berpotensi mempertahankan kondisi pasar energi yang semakin ketat.
Secara keseluruhan, bias WTI masih bullish dalam jangka menengah, tetapi berpotensi mengalami koreksi jangka pendek setelah kenaikan lebih dari 10% dalam sepekan dan munculnya sinyal jenuh beli. Area US$98,50 menjadi perhatian penting, sementara aksi profit-taking dapat semakin kuat apabila tekanan teknis berlanjut. Namun, selama risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb tetap tinggi, penurunan WTI berpotensi menjadi koreksi sementara. Dengan demikian, keseimbangan risiko masih condong ke sisi bullish, tetapi trader perlu mewaspadai volatilitas tinggi menjelang data inflasi AS dan perkembangan terbaru konflik Timur Tengah.
sumber : fxstreet
