WTI Naik Dua Hari, Risiko Gangguan Pasokan Topang Harga Minyak

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melanjutkan penguatan selama dua hari berturut-turut pada hari Selasa. WTI diperdagangkan naik 1,2% ke level US$103,1 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.50 WIB. Kenaikan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian terhadap pasokan global, terutama akibat gangguan jalur distribusi minyak di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut mempertahankan premi risiko geopolitik pada harga minyak dan membuat tekanan bullish masih terlihat kuat dalam jangka pendek.

Salah satu faktor utama yang menopang WTI adalah masih ditutupnya Pipa Timur-Barat Arab Saudi setelah mengalami serangan drone. Jalur tersebut merupakan salah satu alternatif penting untuk mengangkut minyak ketika lalu lintas melalui Selat Hormuz terganggu. Hingga saat ini belum terdapat indikasi yang jelas mengenai kapan operasional pipa akan kembali normal. Semakin lama gangguan tersebut berlangsung, semakin besar kekhawatiran pasar terhadap fleksibilitas pasokan minyak global, sehingga berpotensi menjaga harga WTI tetap tinggi.

Risiko geopolitik juga meningkat setelah pertemuan diplomatik antara Iran dan negara-negara Arab Teluk mengenai situasi di Selat Hormuz ditunda secara mendadak. Iran juga mengklaim sebuah supertanker yang berusaha memasuki area terlarang di Hormuz meledak setelah menabrak ranjau, serta menegaskan bahwa pihaknya belum bersedia berunding dengan Amerika Serikat sebelum tuntutan-tuntutannya dipenuhi. Ketidakpastian tersebut mengurangi harapan penyelesaian diplomatik dalam waktu dekat dan berpotensi mempertahankan risiko gangguan terhadap jalur perdagangan minyak strategis di kawasan tersebut.

Dari Eropa Timur, risiko terhadap infrastruktur energi juga masih menjadi perhatian. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa Ukraina siap menghentikan serangan terhadap target energi Rusia apabila Rusia melakukan hal yang sama. Pernyataan tersebut berbeda dengan klaim Presiden AS Donald Trump mengenai kesepakatan Moskow dan Kyiv untuk menangguhkan serangan terhadap infrastruktur energi. Jika serangan terhadap fasilitas energi tetap berlanjut, pasar dapat mempertahankan premi risiko tambahan terhadap komoditas energi global.

Dari sisi positioning, TD Securities mencatat bahwa Commodity Trading Advisors (CTA) masih mempertahankan posisi long yang sangat besar di pasar minyak mentah, diesel, dan bensin. Posisi long sistematis tersebut menunjukkan bahwa tren bullish masih mendapatkan dukungan dari strategi perdagangan berbasis momentum. Namun, tingginya posisi long juga meningkatkan risiko aksi profit taking apabila volatilitas melonjak atau muncul perkembangan geopolitik yang meredakan kekhawatiran pasokan. Secara keseluruhan, bias WTI masih bullish, dengan area US$100 menjadi level psikologis penting; selama risiko gangguan pasokan dan ketegangan di sekitar Hormuz tetap tinggi, setiap koreksi harga berpotensi masih mendapatkan minat beli.


sumber : fxstreet