WTI Menguat di Tengah Ketegangan AS-Iran, Resistance US$86 Jadi Penentu
Harga West Texas Intermediate (WTI) bergerak menguat dan mencapai level tertinggi dalam hampir tiga minggu pada perdagangan hari Rabu. Meskipun sempat kesulitan menembus level psikologis US$85,00 per barel, WTI tetap mempertahankan penguatan selama empat hari berturut-turut. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen positif terhadap harga minyak masih cukup kuat, terutama karena ketidakpastian geopolitik yang belum mereda.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menopang harga minyak. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih berlangsung, sementara Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai tuntutan Iran dipenuhi. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi dan mempertahankan premi risiko geopolitik pada harga minyak.
Dari sisi teknikal, WTI masih menunjukkan bias bullish dalam jangka pendek karena harga bertahan di atas Fibonacci retracement 38,2% di sekitar US$82,38. Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di 56,90, sedangkan Moving Average Convergence Divergence (MACD) berada di 0,47. Kedua indikator tersebut menunjukkan bahwa momentum kenaikan masih terjaga, meskipun belum menunjukkan kondisi bullish yang terlalu kuat.
Pergerakan selanjutnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan WTI menembus resistance di area US$86,09–US$87,06, yang terdiri dari SMA 100 hari dan Fibonacci retracement 50%. Jika harga berhasil menembus dan bertahan di atas zona tersebut, peluang kenaikan berikutnya terbuka menuju US$91,73, yang merupakan Fibonacci retracement 61,8% dan menjadi target bullish berikutnya.
Sebaliknya, apabila WTI gagal mempertahankan momentum kenaikan, US$82,38 menjadi support awal yang perlu diperhatikan. Penembusan di bawah level tersebut dapat membuka ruang koreksi menuju US$76,60, sementara pelemahan lebih dalam berpotensi mengarah ke US$67,25. Secara keseluruhan, WTI masih memiliki prospek bullish jangka pendek, tetapi perkembangan konflik AS-Iran dan kemampuan harga menembus resistance US$86,09–US$87,06 akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah berikutnya.
sumber : fxstreet
