WTI di Persimpangan Konflik, Premi Risiko Selat Hormuz Jaga Harga di Atas $100

Pasar minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan 6 Mei 2026 berada dalam fase volatilitas tinggi yang didominasi oleh ketegangan ekstrem di Timur Tengah. WTI diperdagangkan turun 1,69% di level $100,87 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.50 WIB. Fokus utama pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur distribusi vital yang menangani sekitar 20% pasokan minyak global. Meskipun terdapat upaya diplomatik dan pengumuman dari Amerika Serikat untuk membebaskan kapal-kapal yang terdampar, risiko gangguan pasokan tetap menjadi pendorong utama (bullish driver) yang menjaga harga WTI bertahan di atas level psikologis $100 per barel, jauh melampaui rata-rata harga tahun-tahun sebelumnya.

Sisi penawaran menunjukkan dinamika yang kontradiktif. Di satu sisi, laporan terbaru menunjukkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi di Teluk Persia telah menyebabkan gangguan produksi global hingga jutaan barel per hari. Di sisi lain, aliansi OPEC+ mencoba menyeimbangkan pasar dengan meningkatkan target produksi untuk bulan Juni 2026 sebesar 188.000 barel per hari. Namun, pasar cenderung mengabaikan kenaikan produksi kecil ini karena keraguan atas kemampuan OPEC+ untuk menutupi kekurangan pasokan jika konflik di Iran terus berlanjut atau meluas, yang pada akhirnya mempertahankan premi risiko tetap tinggi.

Dari sisi permintaan, mulai muncul sinyal-sinyal peringatan atau “demand destruction” (penghancuran permintaan). International Energy Agency (IEA) baru-baru ini merevisi turun prospek pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun 2026. Lonjakan harga energi yang drastis mulai membebani ekonomi negara-negara pengimpor net, terutama di Asia dan Eropa. Biaya bahan bakar jet dan naphtha yang melambung tinggi memicu penurunan konsumsi yang cukup tajam, bahkan diprediksi mencapai penurunan terdalam sejak masa pandemi. Hal ini menciptakan tekanan balik (bearish) yang menahan kenaikan harga lebih lanjut.

Struktur pasar saat ini mencerminkan kondisi backwardation yang sangat dalam, di mana harga kontrak bulan depan (front-month) diperdagangkan jauh lebih mahal dibandingkan kontrak jangka panjang. Pada awal Mei 2026, premi kontrak WTI Mei terhadap September mencapai sekitar $12, mencerminkan kepanikan pasar akan kelangkaan stok fisik dalam jangka pendek. Kondisi ini memaksa para penyulingan minyak untuk berebut mendapatkan kargo fisik guna menutupi kebutuhan operasional di tengah ketidakpastian jalur pelayaran internasional.

Sebagai kesimpulan, arah harga WTI dalam beberapa minggu ke depan akan sangat bergantung pada hasil negosiasi de-eskalasi konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Jika resolusi damai tercapai, harga diprediksi akan mengalami koreksi tajam seiring dengan hilangnya premi risiko geopolitik. Namun, selama gangguan infrastruktur masih terjadi dan ancaman terhadap lalu lintas tanker tetap ada, pasar minyak akan tetap berada dalam rezim harga tinggi (“higher for longer”), meskipun dihantui oleh perlambatan ekonomi global akibat inflasi energi.


sumber : reuters