USDJPY Reli ke Zona Tinggi, Pasar Fokus pada Kebijakan The Fed dan BoJ
Pasangan mata uang USDJPY menguat pada Kamis, 11 Juni 2026, didorong oleh kombinasi penguatan Dolar AS dan pelemahan Yen Jepang. Pelaku pasar masih menilai bahwa perbedaan kebijakan moneter antara Amerika Serikat dan Jepang tetap menjadi faktor utama yang mendukung kenaikan USDJPY. Meskipun pasar memperkirakan kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BoJ) dalam pertemuan pekan depan, laju normalisasi kebijakan Jepang dinilai masih jauh lebih lambat dibandingkan kondisi suku bunga Amerika Serikat yang tetap tinggi.
Dari sisi Amerika Serikat, data inflasi yang masih berada pada level tinggi membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve semakin berkurang. Bahkan sebagian pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kebijakan suku bunga yang tetap ketat lebih lama atau bahkan potensi kenaikan suku bunga tambahan apabila tekanan inflasi tidak mereda. Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury Yield), sehingga meningkatkan daya tarik aset berbasis Dolar AS.
Sementara itu, Yen Jepang masih berada dalam tekanan meskipun Bank of Japan diperkirakan akan menaikkan suku bunga menjadi 1,00% pada pertemuan bulan Juni. Pasar menilai bahwa kenaikan tersebut belum cukup untuk mengimbangi selisih suku bunga yang masih lebar antara Jepang dan Amerika Serikat. Selain itu, terdapat indikasi bahwa BoJ akan memperlambat pengurangan pembelian obligasi guna menjaga stabilitas pasar surat utang domestik Jepang, sehingga membatasi potensi penguatan Yen.
Faktor lain yang turut mendukung USDJPY adalah melebarnya selisih imbal hasil (yield spread) antara obligasi pemerintah AS dan Jepang. Historis menunjukkan bahwa pergerakan USDJPY memiliki korelasi yang kuat dengan perbedaan yield kedua negara tersebut. Ketika yield Treasury AS meningkat lebih cepat dibandingkan yield obligasi Jepang, investor cenderung membeli Dolar AS dan menjual Yen Jepang untuk memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi.
Di sisi geopolitik, meningkatnya ketidakpastian global dan naiknya harga energi juga memberikan tekanan tambahan terhadap ekonomi Jepang yang sangat bergantung pada impor energi. Kenaikan biaya impor berpotensi memperburuk neraca perdagangan Jepang dan menekan nilai tukar Yen dalam jangka pendek. Kondisi ini semakin memperkuat tren kenaikan USDJPY yang saat ini kembali bergerak di atas level psikologis 160.00.
Menurut David Scutt, Senior Market Analyst dari Forex.com, pergerakan USDJPY saat ini masih sangat dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan Federal Reserve dan pergerakan yield obligasi AS. Ia menilai bahwa selama data ekonomi Amerika Serikat tetap solid dan pasar terus mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed, maka USDJPY berpotensi mempertahankan tren bullish meskipun risiko intervensi dari otoritas Jepang masih membayangi di area 160–162.
Secara keseluruhan, penguatan USDJPY didorong oleh kombinasi ekspektasi suku bunga AS yang tetap tinggi, kenaikan yield Treasury, lemahnya Yen akibat perbedaan kebijakan moneter, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek ekonomi Jepang. Selama faktor-faktor tersebut masih mendominasi sentimen pasar, USDJPY berpotensi tetap bertahan pada tren penguatan dalam jangka pendek.
sumber : reuters
