Risalah Rapat The Fed, Para Pejabat Terbelah Mengenai Arah Suku Bunga
Pejabat The Fed menunjukkan perbedaan pandangan mengenai arah suku bunga pada rapat Januari, dengan sebagian menilai pemotongan lebih lanjut sebaiknya ditunda dan baru bisa dilanjutkan nanti tahun ini jika inflasi menurun sesuai target.
Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pda 27–28 Januari 2026 yang dirilis Rabu (18/2/2026) menyoroti dilema antara memerangi inflasi dan mendukung pasar tenaga kerja. Meski keputusan untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap sebagian besar diterima, arah ke depan tetap belum jelas.
“Beberapa peserta menilai penyesuaian lebih lanjut pada target suku bunga federal kemungkinan tepat jika inflasi turun sesuai ekspektasi,” tulis risalah tersebut. Namun, terdapat perbedaan pendapat apakah fokus kebijakan harus lebih pada menahan inflasi atau menjaga stabilitas tenaga kerja.
Beberapa pejabat menyarankan untuk mempertahankan suku bunga sementara sambil menunggu data terbaru. “Penurunan suku bunga tambahan mungkin tidak diperlukan sampai ada indikasi jelas bahwa inflasi benar-benar terkendali,” ungkap risalah itu.
Bahkan sebagian pihak mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap di atas target, dan menyarankan pernyataan pasca-rapat menyoroti dua kemungkinan arah kebijakan suku bunga.
Sebelumnya, The Fed memangkas suku bunga acuannya sebesar 0,75 poin persentase secara berturut-turut pada September, Oktober, dan Desember 2025, sehingga kini berada di kisaran 3,5%–3,75%.
Rapat Januari menjadi yang pertama bagi sejumlah presiden regional baru, termasuk Lorie Logan (Dallas) dan Beth Hammack (Cleveland), yang menekankan suku bunga sebaiknya ditahan sementara karena inflasi masih menjadi ancaman.
Perpecahan di dalam The Fed berpotensi semakin lebar jika mantan Gubernur Kevin Warsh dikonfirmasi sebagai Ketua Fed berikutnya. Warsh, bersama Gubernur Stephen Miran dan Christopher Waller, mendukung penurunan suku bunga.
Waller dan Miran pun menolak keputusan Januari dan lebih memilih pemotongan seperempat poin tambahan. Masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell berakhir pada Mei 2026.Laporan pasar global
Risalah rapat mencatat, meski inflasi diharapkan menurun sepanjang tahun, kecepatan dan waktunya masih belum pasti. Dampak tarif terhadap harga diperkirakan akan berkurang seiring waktu, tetapi risiko inflasi tetap di atas target 2% dianggap signifikan.
Pasca-rapat, FOMC menyesuaikan bahasa dalam pernyataan resmi, menekankan keseimbangan risiko inflasi dan tenaga kerja, sekaligus meredam kekhawatiran sebelumnya terkait lapangan kerja.
Data tenaga kerja terbaru menunjukkan pertumbuhan pekerjaan sektor swasta melambat, terutama berasal dari sektor kesehatan, tetapi tingkat pengangguran turun menjadi 4,3% pada Januari, sementara pertumbuhan nonfarm payroll lebih tinggi dari ekspektasi.
Untuk inflasi, metrik utama Fed, personal consumption expenditures (PCE), tetap sekitar 3%, meski indeks harga konsumen (CPI) inti, tidak termasuk makanan dan energi, menjadi yang terendah dalam hampir lima tahun.
Pasar berjangka memperkirakan pemotongan suku bunga berikutnya kemungkinan terjadi pada Juni, dengan potensi lanjutan pada September atau Oktober, menurut CME Group FedWatch.
sumber : investor.id
