RBA Pertahankan Suku Bunga 4,35%, Tetap Waspadai Inflasi

Reserve Bank of Australia (RBA) mempertahankan suku bunga acuan di level 4,35% pada Selasa, sesuai dengan ekspektasi pasar. Keputusan tersebut diambil secara bulat setelah data inflasi Australia menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Namun, RBA menegaskan bahwa tekanan harga masih tinggi dan membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut apabila risiko inflasi kembali meningkat.

RBA menurunkan proyeksi inflasi akhir 2026, terutama setelah data inflasi kuartal kedua berada di bawah perkiraan. Inflasi utama diproyeksikan mencapai 3,6% pada akhir 2026, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,0%, sementara inflasi inti berdasarkan trimmed mean diperkirakan berada di 3,3%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,5%.

Meski demikian, RBA menilai inflasi masih berada pada level yang terlalu tinggi dan diperkirakan baru kembali ke kisaran target 2%-3% secara berkelanjutan pada akhir 2027. Kenaikan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang berpotensi mempertahankan tekanan inflasi dalam jangka pendek.

RBA juga menyoroti kapasitas ekonomi yang masih terbatas serta perlunya pelemahan permintaan domestik untuk membantu menurunkan inflasi. Bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi Australia akan melambat hingga akhir 2026, meskipun proyeksi Produk Domestik Bruto (PDB) dinaikkan menjadi 1,4% dari sebelumnya 1,3%. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan mencapai 4,5%, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,3%.

Analis Capital Economics menilai RBA kemungkinan masih mempertahankan bias pengetatan untuk beberapa waktu karena tekanan biaya dan ketidakpastian konflik Timur Tengah. Namun, mereka memperkirakan kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan tidak diperlukan dalam siklus saat ini, dengan pemangkasan suku bunga berpotensi menjadi langkah berikutnya, meskipun baru diperkirakan terjadi pada paruh kedua 2027.


sumber : investing