Rally Mata Uang Asia Menipis, Risalah Fed Bantu Dolar Tahan Pelemahan Berlanjut

Mata uang Asia sebagian bergerak tipis pada hari Rabu (22/11), sedangkan dolar menahan pelemahan baru-baru ini setelah risalah rapat Federal Reserve pada akhir Oktober menegaskan kembali pandangan bank tersebut mengenai suku bunga yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Mata uang regional mengalami aksi profit taking setelah peningkatan yang kuat dalam dua sesi terakhir, dan pasar memperkirakan bahwa the Fed selesai menaikkan suku bunga.

Namun, risalah hari Selasa menimbulkan keraguan mengenai kapan bank sentral akan mulai memangkas suku bunga, mengingat sebagian besar pejabat the Fed juga telah berulang kali mengisyaratkan kenaikan suku bunga yang lebih tinggi.

Yuan China – yang merupakan salah satu mata uang Asia dengan performa terbaik minggu ini, diperdagangkan sideways di 7,1386 terhadap dolar. Mata uang ini ditopang oleh serangkaian penetapan kurs tengah yang lebih kuat dari People’s Bank of China, serta laporan bahwa Beijing berencana untuk mengeluarkan lebih banyak langkah stimulus, terutama untuk sektor properti yang bermasalah.

Yen Jepang stabil di sekitar 148,20 terhadap dolar, setelah menguat terhadap dolar selama seminggu terakhir. Potensi tidak ada lagi kenaikan suku bunga Fed merupakan dorongan besar bagi yen, yang telah tertekan oleh kesenjangan yang semakin besar antara suku bunga AS dan Jepang.

Namun, prospek yen tetap dibayangi oleh ketidakpastian atas Bank of Japan yang dovish, yang sejauh ini hanya mengisyaratkan sedikit perubahan pada sikap ultra-longgarnya.

Dolar Australia turun sedikit setelah naik ke level tertinggi lebih dari tiga bulan di sesi sebelumnya. Gubernur Reserve Bank of Australia Michele Bullock memperingatkan bahwa inflasi di negara ini tetap ulet – sebuah tren yang dapat menarik lebih banyak kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Di antara mata uang Asia lainnya, Won Korea Selatan naik 0,1%, sementara dolar Singapura flat bahkan ketika data menunjukkan ekonomi tumbuh sedikit lebih tinggi dari semula negara pulau ini pada kuartal ketiga. Namun pertumbuhan masih tetap lamban, di tengah tekanan dari pelemahan di China, inflasi yang tinggi dan kondisi moneter yang lebih ketat.

Rupee India diperdagangkan sideways, dan rupiah Indonesia memimpin pelemahan di Asia Tenggara dengan turun 0,4%.

Dolar tahan pelemahan baru ini, risalah Fed tegaskan kembali prospek suku bunga
Indeks dolar dan indeks dolar berjangka bergerak flat di perdagangan Asia pada hari Rabu, stabil setelah turun mendekati level terendah tiga bulan di awal minggu ini. Meningkatnya ekspektasi tidak ada lagi kenaikan suku bunga The Fed mendera greenback dengan gelombang penjualan.

Risalah Fed pada hari Selasa tidak memberikan sinyal baru, menekankan pandangan bank untuk suku bunga yang lebih tinggi dengan waktu yang lebih lama. Namun, beberapa traders masih memikirkan kembali ekspektasi bahwa Fed akan menurunkan suku bunga paling cepat Maret 2024.

Namun ekspektasi untuk pemangkasan di bulan Juni tetap kuat. alat Fedwatch tool dari CME memberikan peluang sekitar 40% untuk pemangkasan.

Namun, prospek kenaikan suku bunga AS yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama membatasi peningkatan besar dalam mata uang Asia, pasalnya kesenjangan antara yields berisiko dan berisiko rendah tetap sempit.


sumber : investing