Premi Risiko Memuncak, Dinamika Selat Hormuz Menjadi Penentu Arah WTI
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi dengan kecenderungan menguat. WTI diperdagangkan naik 1,81% di level $98,42 per barel saat berita ini ditulis Pukul 14.05 WIB pada hari Selasa. Pergerakan ini terjadi setelah harga sempat mengalami tekanan hebat hingga menyentuh level di bawah USD 95,00 pada hari sebelumnya, sebelum akhirnya berhasil melakukan rebound signifikan berkat kembalinya minat beli di pasar komoditas energi.
Sentimen utama yang menggerakkan pasar saat ini adalah perkembangan situasi di Selat Hormuz. Muncul laporan mengenai proposal baru dari Iran kepada Amerika Serikat yang menawarkan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut dengan imbalan penghentian konflik, sementara isu nuklir akan dibahas di tahap selanjutnya. Meskipun proposal ini telah diterima oleh pihak AS, ketidakpastian mengenai keputusan akhir tetap menjaga harga minyak di level tinggi karena pasar masih memperhitungkan premi risiko terhadap gangguan pasokan global yang mungkin terjadi.
Dari sisi penawaran, OPEC+ terus memainkan peran krusial dalam menjaga stabilitas pasar. Dalam pertemuan terbaru pada awal April 2026, delapan negara anggota OPEC+ termasuk Arab Saudi dan Rusia, memutuskan untuk tetap berhati-hati dalam melakukan penyesuaian produksi sukarela mereka. Kelompok ini berkomitmen untuk memantau kondisi pasar secara ketat dan tetap fleksibel untuk menambah atau menahan produksi guna mencegah penumpukan inventaris yang berlebihan, terutama dengan proyeksi surplus pasokan yang membayangi periode paruh kedua tahun ini.
Data stok minyak Amerika Serikat turut memberikan warna pada fundamental pekan ini. Laporan dari Badan Informasi Energi (EIA) menunjukkan adanya kenaikan stok minyak mentah komersial AS sebesar 1,9 juta barel, melampaui perkiraan para analis yang sebelumnya memprediksi penurunan. Namun, tekanan bearish dari kenaikan stok ini diimbangi oleh penurunan signifikan pada stok bensin dan distilat. Hal ini mengindikasikan bahwa permintaan dari sektor hilir mulai menguat menjelang musim berkendara (driving season) di musim panas, yang secara historis meningkatkan konsumsi bahan bakar.
Secara keseluruhan, pasar minyak WTI saat ini berada dalam posisi “tunggu dan lihat” (wait and see). Meskipun proyeksi jangka panjang dari lembaga seperti J.P. Morgan dan EIA memperkirakan harga mungkin akan melandai ke arah USD 60–USD 76 per barel di akhir tahun seiring normalisasi produksi, namun untuk jangka pendek, harga masih akan ditopang oleh premi risiko geopolitik dan penyesuaian strategi OPEC+. Para investor akan terus memantau rilis data ekonomi makro dan perkembangan diplomasi di Timur Tengah sebagai panduan arah pergerakan harga selanjutnya.
sumber : reuters
