Powell: The Fed Terus Pantau Dampak Perang ke Inflasi AS

Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyatakan bahwa pihaknya tengah mencermati dampak dari perang di Iran terhadap ekonomi dan inflasi Amerika Serikat.

“Kami merasa kebijakan kami berada di posisi yang baik untuk menunggu dan melihat bagaimana dampaknya,” kata Powell selama sesi tanya jawab di Universitas Harvard, dikutip dari The Straits Times, Selasa (31/3/2026).

Pernyataan Powell dinilai menenangkan pasar keuangan yang pekan lalu melihat peningkatan ekspektasi bahwa The Fed akan berupaya menekan inflasi AS dengan menaikkan suku bunga. Spekulasi kenaikan suku bunga tersebut hampir lenyap.

Saat perang Iran memasuki minggu kelima dan harga BBM di AS naik menjadi sekitar US$ 4 per liter, Powell mengakui potensi tekanan yang menjadi perhatian The Fed, yaitu lapangan kerja dan stabilitas harga.

“Ada semacam risiko penurunan di pasar tenaga kerja, yang menunjukkan untuk menjaga suku bunga tetap rendah, tetapi ada risiko kenaikan inflasi, yang menunjukkan mungkin jangan menjaga suku bunga tetap rendah,” ungkap Powell.

“Ada ketegangan antara kedua hal tersebut,” bebernya.

Namun untuk saat ini, katanya, The Fed tidak terburu-buru untuk merubah sikap, meskipun para pembuat kebijakan mengamati dengan cermat tanda-tanda memburuknya ekspektasi inflasi.

“Ekspektasi inflasi tampaknya terkendali dengan baik di luar jangka pendek,” jelas Powell.

Sebagai catatan, The Fed telah mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil di kisaran 3,5%-3,75% pada awal Maret 2026.

Lebih lanjut, Powell mengatakan ia menargetkan inflasi yang didorong oleh kebijakan tarif impor untuk mereda sebelum mengambil tindakan terhadap dampak dari perang.


sumber : investor.id