Penguatan Dolar dan Kenaikan Yield Obligasi AS, Tekan Harga Emas

Harga emas dunia merosot lebih dari 2% pada Selasa (21/4/2026), tertekan penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil (yiled) obligasi Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar juga bersikap hati-hati menanti perkembangan negosiasi AS dan Iran.

Harga emas spot ditutup ambles 2,08% di level US$ 4.720,02 per ons, menjadi yang terendah dalam lebih dari sepekan.

Dikutip dari Reuters, penguatan dolar AS turut menekan harga emas, karena membuat logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga mengalami kenaikan.

Analis pasar dari RJO Futures Bob Haberkorn mengatakan, kombinasi kenaikan yield dan penguatan dolar menjadi faktor utama tekanan terhadap emas.

“Kenaikan imbal hasil dan dolar memberi tekanan pada emas, ditambah banyaknya berita dan sinyal yang beragam terkait situasi Iran yang juga mendorong harga energi naik, sehingga menekan logam,” ujarnya.

Ketidakpastian geopolitik turut memperburuk sentimen. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan tidak ingin memperpanjang gencatan senjata dengan Iran dan menegaskan militer AS siap bertindak jika negosiasi gagal.

Pernyataan tersebut mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 3%, memperkuat kekhawatiran lonjakan inflasi global. Sejak konflik AS dan Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari, harga energi memang terus mengalami tekanan ke atas.

Kondisi ini membuat prospek penurunan suku bunga menjadi semakin suram. Padahal, emas yang tidak memberikan imbal hasil biasanya lebih diminati saat suku bunga rendah.

Selain itu, pelaku pasar juga mencermati proses uji kelayakan di Senat AS terhadap Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua bank sentral AS.

Dalam pernyataannya, Warsh mendorong perubahan besar di bank sentral, termasuk pendekatan baru dalam mengendalikan inflasi serta perbaikan strategi komunikasi kebijakan moneter.

“Trader akan mencermati setiap pernyataan Warsh. Dengan adanya sidang ini, volatilitas pasar berpotensi meningkat tajam,” kata Haberkorn.

Tak hanya emas, logam mulia lainnya juga ikut tertekan. Harga perak turun 0,04% dan ditutup di US$ 76,65 per ons.


sumber : investor.id