Pasar Valuta Asing Bergerak Lesu, Jelang Data Inflasi AS

Pasar valuta asing (Valas) cenderung bergerak terbatas sejak awal pekan, dengan Dolar AS (USD) bertahan di sekitar level 99,00 sebagaimana tercermin dari Indeks Dolar AS (DXY). Perkembangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga energi, serta meningkatnya imbal hasil obligasi AS membuat perhatian investor semakin tertuju pada data inflasi Amerika Serikat. DXY berada di sekitar 98,82 dan membentuk pola candlestick doji, yang mencerminkan keraguan pasar. Selanjutnya, perhatian akan beralih pada data rata-rata perubahan ketenagakerjaan ADP empat minggu sebelum pasar menghadapi rilis Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI) AS.

Di pasar Eropa, EURUSD berhasil menembus level psikologis 1,1600 seiring pelemahan Dolar AS secara umum. Perhatian investor kini tertuju pada pidato Presiden European Central Bank (ECB) Christine Lagarde serta keputusan kebijakan moneter ECB pada Kamis. Sementara itu, GBPUSD sempat menguat hingga 1,3561 sebelum terkoreksi ke sekitar 1,3539 setelah muncul sejumlah komentar dari pejabat Bank of England (BoE). Gubernur Andrew Bailey menyoroti dampak konflik AS-Iran terhadap kenaikan harga energi, sementara Megan Greene mengkhawatirkan potensi bertahannya harga minyak pada level tinggi. Alan Taylor mendukung kebijakan suku bunga yang tetap restriktif, sedangkan Dave Ramsden menilai tekanan inflasi domestik masih relatif terkendali. Fokus berikutnya dari Inggris akan tertuju pada data Produk Domestik Bruto (PDB) yang dirilis Jumat.

USDJPY melanjutkan pelemahan dan sempat turun di bawah level 153,00 di tengah spekulasi mengenai kemungkinan intervensi otoritas Jepang. Pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang mendorong Jepang untuk memperketat kebijakan turut menjadi perhatian pasar. Namun, pergerakan USDJPY tetap sangat dipengaruhi oleh arah imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun dan data inflasi Amerika Serikat, sehingga peluang pengujian kembali level sebelum intervensi masih terbuka. Di sisi lain, AUDUSD bergerak menguat setelah Deputi Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Hauser menyatakan bahwa kemungkinan kenaikan suku bunga akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Pergerakan Dolar Australia selanjutnya dapat dipengaruhi oleh data inflasi Tiongkok serta Ekspektasi Inflasi Konsumen Australia untuk September.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali mencapai level tertinggi dalam enam minggu akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan yang melibatkan kelompok Houthi dan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi kawasan tersebut meningkatkan premi risiko pada harga minyak. Sejumlah bank investasi bahkan memperkirakan bahwa ketegangan geopolitik dapat berlangsung lebih lama, sehingga risiko gangguan pasokan energi tetap menjadi perhatian utama pasar. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global dan pada akhirnya memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter bank sentral.

Sementara itu, harga Emas (XAUUSD) bergerak melemah tipis dan kembali berada di bawah US$4.400 per troy ons ketika investor menunggu data inflasi AS. Meskipun Emas secara tradisional dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian, prospek suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan imbal hasil obligasi sekaligus memperkuat Dolar AS, sehingga menjadi hambatan bagi harga bullion. Dengan kondisi tersebut, XAU/USD berpotensi bergerak dalam rentang yang relatif terbatas hingga rilis PPI dan terutama CPI AS memberikan arah baru bagi ekspektasi kebijakan Federal Reserve (The Fed). Data inflasi tersebut akan menjadi katalis penting untuk menentukan apakah Emas mampu kembali menguat atau justru melanjutkan tekanan bearish.


sumber : fxstreet