Pasar Jenuh Beli dan Aksi Profit Taking, Indeks Dolar AS Alami Pelemahan Teknis
Pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026, Indeks Dolar AS (DXY) terpantau mengalami sedikit pelemahan intraday dan bergerak melandai di kisaran level 99,11 turun 0,12% saat berita ini ditulis Pukul 13.50 WIB. Jika melihat gambaran besarnya, greenback sebenarnya masih berada dalam tren yang relatif kokoh akibat sentimen krisis energi global dan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi AS 10-tahun yang sempat menyentuh 4,59%. Namun, penurunan tipis pada siang hari ini mencerminkan adanya aksi ambil untung (profit-taking) jangka pendek oleh para pelaku pasar setelah reli defensif yang cukup agresif pada akhir pekan lalu.
Faktor fundamental utama yang menahan laju penguatan DXY secara agresif adalah masa transisi krusial di tubuh Bank Sentral AS (Federal Reserve). Masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua Fed baru saja berakhir pada 15 Mei 2026, dan tongkat kepemimpinan akan segera beralih ke Kevin Warsh menjelang pertemuan FOMC bulan Juni mendatang. Pasar saat ini bersikap sangat hati-hati karena Warsh dalam pernyataan sebelumnya dikenal memiliki pandangan yang lebih terbuka terhadap potensi pemotongan suku bunga lebih awal dibandingkan konsensus, serta lebih menyukai panduan kebijakan yang fleksibel. Ketidakpastian arah kebijakan di bawah nakhoda baru ini membuat para investor cenderung menahan diri dan mengurangi porsi kepemilikan dolar mereka pada jam perdagangan Asia-Eropa.
Selain faktor transisi kepemimpinan, pasar juga sedang mengantisipasi rilis notulen rapat (FOMC Minutes) dari pertemuan bulan April lalu yang dijadwalkan keluar pada hari Rabu, 20 Mei 2026. Pertemuan tersebut mencatatkan sejarah fragmentasi internal terdalam sejak tahun 1992, di mana pemungutan suara berakhir dengan keputusan tidak bulat (split vote 8-4). Ketidakpastian mengenai seberapa dalam keretakan antara kubu hawkish dan dovish di balik pintu tertutup membuat para trader enggan mendorong DXY menembus level resistansi kuatnya (di kisaran 99,45–100,25) sebelum mendapatkan kejelasan mengenai isi notulen tersebut.
Secara makroekonomi, Dolar AS juga tengah terjebak dalam dilema antara pertumbuhan ekonomi dan inflasi domestik. Di satu sisi, inflasi CPI AS per April masih bertengger di angka 3,8% akibat melambungnya harga minyak mentah Brent di atas $111 per barel karena blokade Selat Hormuz yang telah memasuki minggu ke-11. Namun di sisi lain, pasar tenaga kerja AS mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan dengan tingkat pengangguran yang merangkak naik ke level 4,3%. Kondisi “tarik-menarik” ini membuat ruang bagi Fed untuk bertindak agresif menjadi sangat terbatas, sehingga memicu pelemahan teknis berkala pada indeks dolar saat pasar kehabisan katalis baru yang murni hawkish.
Terakhir, dari sisi pergerakan taktis harian, saat ini merupakan waktu transisi di mana pasar Asia mulai ditutup dan pasar Eropa bersiap untuk dibuka. Setelah DXY menyerap aliran dana aman (safe-haven) yang cukup masif di pagi hari—menyusul hasil KTT Trump-Xi di Beijing yang belum membuahkan terobosan untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz—aktivitas pasar mengalami fase jenuh beli (overbought) sesaat. Pelemahan minor pada siang hari ini sejatinya adalah mekanisme pasar yang sehat bagi DXY untuk melakukan konsolidasi guna mencari titik keseimbangan baru, sebelum para pelaku pasar Barat masuk dan menentukan arah pergerakan dolar selanjutnya untuk sisa hari ini.
sumber : reuters
