Negosiasi Nuklir Buntu, Harga Minyak Kembali Merangkak
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak menguat pada perdagangan hari Jumat, 22 Mei 2026 pukul 13.35 WIB. WTI merangkak naik sekitar 0,05% menuju kisaran $98,04 per barel. Meskipun sepanjang pekan ini harga minyak sempat mengalami tekanan koreksi yang cukup tajam akibat harapan deeskalasi konflik, dinamika yang berkembang dalam beberapa jam terakhir kembali memicu kekhawatiran pelaku pasar. Penguatan di pertengahan hari ini didominasi oleh pergeseran sentimen dari optimisme damai menjadi sikap skeptis dan penuh kehati-hatian.
Faktor utama yang mendorong rebound harga WTI siang ini adalah kebuntuan baru dalam negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. Berdasarkan laporan intelijen dan sumber diplomatik, Pemimpin Agung Iran kabarnya memerintahkan agar cadangan uranium yang diperkaya tetap berada di dalam negeri. Keputusan ini menjadi ganjalan besar bagi AS yang sejak awal menuntut pembongkaran total program nuklir Teheran sebagai syarat mutlak pemulihan hubungan. Ketidakpastian yang kembali memuncak ini memaksa para trader melakukan aksi beli di akhir pekan guna mengamankan posisi dari risiko politik yang tidak terduga.
Selain masalah nuklir, tensi geopolitik juga diperparah oleh perdebatan status Selat Hormuz. Iran dilaporkan tengah menjajaki kerja sama dengan Oman untuk melembagakan sistem pungutan tol permanen bagi lalu lintas maritim di selat strategis tersebut. Langkah unilateral ini langsung mendapat penolakan keras dari Presiden AS Donald Trump yang menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap menjadi jalur internasional yang bebas, terbuka, dan tanpa biaya tambahan. Gesekan diplomatik mengenai kontrol jalur logistik energi dunia ini memberikan sokongan fundamental yang kuat bagi kenaikan harga minyak harian.
Secara fundamental, pasar juga menyadari bahwa kerusakan infrastruktur energi di Timur Tengah akibat konflik beberapa bulan terakhir membutuhkan waktu pemulihan yang tidak sebentar. Lembaga riset komoditas terkemuka seperti BMI (unit dari Fitch Solutions) bahkan menaikkan proyeksi rata-rata harga minyak global untuk sisa tahun 2026. Analisis pasar menunjukkan adanya jeda waktu normalisasi pasca-konflik (normalization window) selama minimal enam hingga delapan minggu. Selama infrastruktur belum sepenuhnya diperbaiki dan pasokan dari Teluk belum kembali mengalir normal, pasokan global akan tetap berada dalam posisi defisit secara struktural.
Terakhir, penguatan WTI hari ini mencerminkan betapa besarnya volume minyak yang saat ini sedang tersendat di jalur perdagangan dunia. Blokade dan pembatasan tanker di Selat Hormuz sejauh ini telah memangkas pasokan global hingga 14 juta barel per hari, atau setara dengan 14% dari total kebutuhan minyak bumi dunia. Dengan pasokan fisik yang masih sangat ketat di pasar spot dan cadangan minyak darat negara-negara OECD yang terus terkuras, ruang bagi penurunan harga menjadi sangat terbatas. Oleh sebab itu, begitu prospek perdamaian menunjukkan tanda-tanda melambat, harga WTI langsung merespons dengan lonjakan naik yang cukup signifikan.
sumber : reuters
