Minyak WTI Turun, Dipicu Profit Taking dan Kekhawatiran Permintaan Global

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mengalami tekanan pada perdagangan 17 Juli 2026 setelah investor melakukan aksi profit taking menyusul reli tajam yang terjadi sepanjang pekan. WTI diperdagangkan turun 0,45% ke level $ 79,25 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.35 WIB. Pada hari sebelumnya, harga sempat bergerak lebih rendah karena pasar menilai premi risiko geopolitik sudah cukup besar sehingga sebagian pelaku pasar memilih merealisasikan keuntungan. Meskipun ketegangan di Timur Tengah masih menjadi faktor pendukung, aksi ambil untung mendominasi perdagangan jangka pendek.

Selain aksi profit taking, sentimen negatif juga datang dari prospek permintaan minyak global yang mulai melemah. Dalam laporan bulanannya, OPEC kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk tahun 2026. Revisi tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok, dapat mengurangi konsumsi energi pada paruh kedua tahun ini. Ekspektasi permintaan yang lebih lemah membuat investor lebih berhati-hati untuk mempertahankan posisi beli pada minyak mentah.

Di sisi lain, pelaku pasar juga terus mencermati prospek pasokan global. Meski risiko gangguan distribusi minyak melalui kawasan Timur Tengah masih tinggi, pasar mulai menilai bahwa pasokan dari negara-negara produsen di luar kawasan konflik berpotensi mengimbangi sebagian gangguan tersebut. Ekspektasi peningkatan produksi dan pasokan yang lebih stabil menjadi faktor yang membatasi kenaikan harga WTI, sehingga setiap reli cenderung dimanfaatkan sebagai momentum untuk mengambil keuntungan.

Pergerakan harga minyak pada hari ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya volatilitas di pasar keuangan global. Pelemahan bursa saham dunia mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk komoditas energi. Kondisi tersebut menyebabkan tekanan jual jangka pendek pada WTI, meskipun secara mingguan harga minyak masih mencatat kenaikan yang cukup kuat berkat premi risiko geopolitik.

Menurut Ole Hansen, Head of Commodity Strategy di Saxo Bank, pasar minyak saat ini berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik maupun data fundamental. Hansen menilai bahwa kenaikan harga yang cepat telah mendorong banyak investor melakukan profit taking, sementara arah pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah, prospek permintaan global, serta keseimbangan pasokan dari OPEC+ dan produsen non-OPEC. Selama belum ada gangguan pasokan yang lebih besar, harga minyak diperkirakan tetap bergerak volatil dalam jangka pendek.


sumber : reuters