Minyak Mentah WTI Bergerak Naik, didorong Krisis Selat Hormuz

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan Senin, 27 April 2026, masih bertahan di kisaran tinggi, didukung kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. WTI diperdagangkan naik 0,93% di level $96,19 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.20 WIB. Konflik yang berlarut di kawasan Selat Hormuz—jalur strategis distribusi sekitar 20% minyak dan gas dunia—mendorong investor kembali ke aset energi sebagai lindung nilai terhadap risiko pasokan. Ketegangan meningkat setelah Iran memperpanjang pembatasan lalu lintas kapal tanker, sedangkan Amerika Serikat menerapkan blokade sebagian terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Situasi ini mempersempit ruang gerak pasokan global dan menjadi katalis utama penguatan harga minyak

Dari sisi politik, Presiden AS Donald Trump membatalkan kunjungan diplomatik penting ke Islamabad untuk melanjutkan pembicaraan damai dengan Iran. Keputusan ini memperpanjang ketidakpastian atas solusi politik terkait blokade Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, yang sedang berada di Pakistan untuk mediasi, dikabarkan membawa proposal baru perihal penghentian perang dan pembukaan rute pelayaran. Namun, hingga saat ini belum ada tanda-tanda konkret kemajuan. Ketidakpastian ini menambah faktor bullish di pasar energi karena investor menilai bahwa risiko geopolitik belum akan mereda dalam jangka pendek

Secara fundamental, tekanan inflasi kembali menjadi kekhawatiran utama di tengah kenaikan harga energi. Sejumlah analis memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak ke atas $90 per barel dapat menghidupkan kembali risiko stagflasi ringan, mirip dengan periode 1970-an. Meski sebagian besar pelaku pasar masih memperkirakan Federal Reserve (Fed) akan mempertahankan suku bunga di level saat ini, tekanan harga dari sisi energi bisa memaksa bank sentral mempertimbangkan kebijakan yang lebih hawkish. Hal ini berpotensi memperkuat dolar AS dalam jangka menengah, walaupun saat ini indeks dolar cenderung bergerak stabil di kisaran 98,5.

Di sisi lain, data dari pasar derivatif menunjukkan aktivitas beli yang meningkat pada kontrak jangka pendek, menandakan masih kuatnya minat spekulatif terhadap tren naik minyak. Namun, analis memperkirakan harga WTI kemungkinan akan menghadapi resistansi kuat di area $95,00–$96,00 per barel sebelum mampu melanjutkan kenaikan yang lebih signifikan. Koreksi teknikal jangka pendek masih mungkin terjadi jika muncul sinyal positif dari perundingan AS–Iran. Skema perdagangan buy on dip tetap menjadi strategi dominan di tengah optimisme pasokan yang tertekan tetapi belum mencapai titik krisis penuh.

Secara keseluruhan, arah harga minyak WTI untuk pekan ini masih didominasi oleh faktor geopolitik, bukan fundamental ekonomi murni. Selama jalur pelayaran utama di Hormuz belum terbuka kembali dan negosiasi antara AS dan Iran belum menghasilkan solusi nyata, pasar cenderung mempertahankan posisi beli pada minyak mentah. Dengan dukungan harga di kisaran $92,50–$93,00 dan resistansi utama di atas $95, outlook jangka pendek tetap positif. Namun, pelaku pasar disarankan untuk memperhatikan perkembangan diplomasi Timur Tengah dan dinamika kebijakan moneter global yang dapat mempengaruhi sentimen risk-on di pasar komoditas.


sumber : fxstreet