Mata Uang Asia Naik Sebelum Notulen Fed

Sebagian besar mata uang Asia naik pada hari Rabu (21/02), mendapat dorongan dari dolar yang lemah untuk mengantisipasi sinyal lanjutan jalur suku bunga dari Federal Reserve.

Mata uang regional masih mengalami kerugian dalam beberapa sesi terakhir karena memudarnya ekspektasi penurunan suku bunga awal oleh The Fed membuat dolar naik ke level tertinggi tiga bulan.

Namun, greenback turun secara signifikan dari level tertinggi baru-baru ini minggu ini, memberikan sedikit bantuan bagi pasar Asia.

Dolar jatuh jelang risalah dan Fedspeakers
Indeks dolar dan indeks dolar berjangka masing-masing turun sekitar 0,1% di perdagangan Asia, di mana investor mengambil sejumlah keuntungan dalam greenback sebelum rentetan sinyal Fed minggu ini.

Notulen rapat Fed akhir Januari akan dirilis pada hari Rabu, setelah bank mempertahankan suku bunga dan sebagian besar mengerdilkan ekspektasi penurunan suku bunga lebih awal.

Selain notulen, sejumlah pejabat The Fed juga akan berbicara minggu ini, termasuk Raphael Bostic dan Michelle Bowman pada hari Rabu.

Yuan China naik karena harapan pemulihan ekonomi
Yuan China naik 0,1% pada hari Rabu, juga diuntungkan oleh beberapa optimisme atas potensi pemulihan ekonomi di negara dengan perekonomian terbesar di Asia ini.

Data yang menunjukkan peningkatan belanja konsumen dan permintaan perjalanan selama liburan Tahun Baru Imlek menambah harapan akan pemulihan yang lebih besar dalam konsumsi – yang merupakan pendorong utama ekonomi China.

People’s Bank of China juga memangkas loan prime rate lima tahun dengan margin yang lebih besar dari perkiraan pada hari Selasa, yang isyarat ada lebih banyak dukungan untuk ekonomi China.

Kendati suku bunga yang lebih rendah menjadi pertanda buruk untuk yuan, kerugian mata uang ini dibendung oleh intervensi pemerintah di pasar mata uang. Laporan-laporan media menyebut beberapa bank milik pemerintah China membeli yuan dan menjual dolar di pasar terbuka.

Mata uang-mata uang Asia lainnya cenderung menguat. Yen Jepang naik 0,1% namun tetap berada di level 150. Data menunjukkan peningkatan yang lebih besar ekspor Jepang di bulan Januari, sementara impor mengalami kontraksi lebih besar dari perkiraan.

Dolar Singapura dan won Korea Slelatan keduanya diperdagangkan sideways.

Dolar Australia naik 0,3%, memimpin penguatan di seluruh Asia karena optimisme terhadap China, sementara data indeks harga upah Australia yang lebih kuat untuk kuartal keempat mendorong spekulasi bahwa Reserve Bank of Australia akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Rupee India datar setelah menguat lebih jauh dari level 83 dalam perdagangan semalam.


sumber : investing