Ketegangan Selat Hormuz: Antara Eskalasi Militer dan Harapan Diplomasi
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak sangat volatil pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026. WTI diperdagangkan turun 0,85% di level $104,18 per barel saat berita ini ditulis Pukul 14.35 WIB. Setelah melonjak signifikan di awal pekan akibat eskalasi militer langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz, pasar kini mulai melakukan konsolidasi. Ketegangan memuncak ketika terminal minyak Fujairah di Uni Emirat Arab terkena serangan rudal yang menyebabkan kebakaran, serta adanya insiden saling tembak yang melibatkan drone dan kapal perang di jalur pelayaran paling krusial di dunia tersebut.
Sentimen pasar saat ini terbelah antara risiko gangguan pasokan fisik dan upaya deeskalasi melalui jalur diplomatik. Laporan mengenai adanya proposal perdamaian baru dari Iran yang disampaikan melalui mediator Pakistan memberikan sedikit napas lega bagi pelaku pasar, yang memicu aksi profit taking minor dari level tertinggi di $107. Namun, penolakan awal dari pihak Gedung Putih terhadap proposal tersebut menjaga “premi risiko” tetap tinggi, karena pasar khawatir bahwa penutupan Selat Hormuz akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan semula.
Dari sisi pasokan global, organisasi OPEC+ berada dalam posisi yang sulit setelah pengunduran diri Uni Emirat Arab (UEA) dari kartel tersebut secara resmi pada 1 Mei 2026. Meskipun OPEC+ telah sepakat untuk menaikkan target produksi sebesar 188.000 barel per hari untuk bulan Juni guna menstabilkan harga, angka ini dianggap tidak cukup oleh para analis. Kapasitas cadangan (spare capacity) yang dimiliki Arab Saudi dan Rusia diharapkan mampu menambal kekurangan, namun kendala logistik akibat konflik di Timur Tengah membuat distribusi minyak ke pasar global tetap terhambat.
Di Amerika Serikat, data persediaan minyak mentah menunjukkan tren pengetatan yang signifikan. Laporan EIA terbaru mencatat penurunan cadangan minyak mentah sebesar 6,23 juta barel, jauh melampaui estimasi pasar. Selain itu, tingkat pemanfaatan kilang di AS meningkat seiring dengan tingginya permintaan domestik di tengah musim semi. Hal ini menciptakan landasan harga yang kuat bagi WTI, sementara pemerintah AS terus memantau penggunaan Cadangan Minyak Strategis (SPR) untuk meredam lonjakan harga energi di tingkat konsumen.
Secara keseluruhan, fundamental WTI pada 5 Mei 2026 didominasi oleh faktor geopolitik yang sangat cair. Meskipun ada potensi koreksi jika jalur diplomasi membuahkan hasil, risiko “shock” pasokan tetap membayangi. Jika lalu lintas di Selat Hormuz tidak segera normal, para analis memprediksi harga minyak dapat menguji level psikologis baru di atas $110 per barel. Namun, perlambatan pertumbuhan permintaan dari Asia, khususnya Tiongkok, menjadi faktor pemberat yang mungkin membatasi kenaikan harga yang terlalu agresif dalam jangka menengah.
sumber : reuter
